Cerpen by Meira Zaliyanti
WORLD
IN THE MIRROR
by Meira Zaliyanti
Malam
yang paling Leanna benci akhirnya tiba juga. Makan malam yang begitu mewah dan
sopan ala keluarga konglomerat. Di saat yang lain dengan khidmat menyantap
makan malamnya tidak dengan Leanna. Ia ingin segera mengakhiri makan malam ini.
“Lea,
kamu sedang sakit?” tanya wanita paruh baya di seberang meja makan
“Tidak,
hanya saja tujuan dari makan malam ini sangat menjengkelkan” jawab Lea
Kedua
orang tua Lea sontak kaget mendengar anaknya berbicara begitu. Tentu saja
kaget, ini acara makan malam yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Makan malam
ini digelar bertujuan membicarakan pertunangan sekaligus pernikahan antara
Leanna Raymonda dan Arlo Myles.
Meskipun
Lea tidak salah jengkel karena pernikahannya didasari kerja sama bisnis
keluarga Raymonda dan Myles. Bagi Lea pernikahan adalah suatu hal yang sakral
dan ia tidak mau mengorbankan masa depannya hanya demi bisnis.
“Lea
jaga bicaramu” ucap Papa Lea
“What?”
balas Lea dengan nada malas
“Lea
tidak suka dengan cara kalian yang seperti ini. Bukan kemauan aku untuk menikah
dengan Arlo. Aku berhak menentukan jalan hidupku Pa, Ma”
Papa
geram mendengar ucapan anak sematawayangnya. Mama memegang tangannya berharap
dapat meredakan emosi Papa. Sementara di seberang meja keluarga Myles sudah
memasang muka tidak enak karena mendengar ucapan Lea.
Saat
Papa hendak berdiri untuk menghampiri Lea yang terhalang satu kursi dengannya
tiba-tiba saja Ayah Arlo dari keluarga Myles berdiri terlebih dahulu.
“Saya
ucapkan terima kasih untuk makan malamnya mungkin kita bisa membicarakannya
lain waktu atau tidak perlu sama sekali karena saya rasa anak kami juga tidak
bisa menikahi gadis yang tidak tahu sopan santun”
Ayah
Arlo berjalan lebih dulu meninggalkan meja makan diikuti Bunda Arlo dan Arlo.
Melihat
hal tersebut Papa sangat marah pada Lea.
“Harusnya
aku yang marah di sini. Kalian tidak bisa seenaknya mengatur hidupku dengan
siapa aku harus menikah dan dengan siapa aku harus jatuh cinta. Kalian tidak berhak”
seru Lea
“Kamu
pikir kamu siapa? Kamu bisa hidup dengan kemewahan ini karena kami jadi sudah
seharusnya kamu patuh!”
Lea
tahu dirinya hanya seorang anak tapi bukan berarti ia pantas diperlakukan
seperti ini. Omongan Papa memang benar dia bisa hidup layak dan mewah berkat
kedua orang tuanya. Namun bagi Lea hal tersebut bukan alasan yang bisa
menjadikan orang tuanya punya hak penuh mengatur terus menerus hidupnya.
“Kami
hanya ingin yang terbaik untuk kamu” kali ini Mama memberi suara
“Oh
yang terbaik menurut kalian itu menjual anaknya demi menyukseskan bisnis
begitu?”
“Lea
bicaramu sudah sangat keterlaluan. Mama melahirkan kamu dengan susah payah jadi
mana mungkin dengan teganya menjual kamu. Mama kecewa dengan pemikiran kamu
yang seperti itu.”
Hening
sejenak. Lea memutuskan untuk pergi dari meja makan menuju kamarnya.
***
Di depan cermin Lea melihat wajahnya
sendiri yang tampak gusar.
“Kamu tidak salah Lea”
“Mereka yang tidak mengerti kamu”
“Seenaknya menganggap kamu boneka yang
bisa diatur”
Lea
melampiaskan kekesalannya di depan cermin. Ia terus mengoceh meyakinkan bahwa
dia berhak atas apa yang dia ucapkan di meja makan.
“Wait, what is that?” seru Lea sambil
mengucek kedua matanya
Ia
baru saja melihat seseorang lewat di cermin. Namun anehnya orang itu tidak seperti
pantulan dalam cermin melainkan berada di dalam cermin. Lea mengecek
sekelilingnya tidak ada apapun selain dirinya dan kasur besar di belakangnya.
Lea
kembali menatap cermin kali ini ia dikejutkan dengan permukaan cermin yang
berubah seperti air bergelombang. Dengan rasa penasaran Lea mendekatkan dirinya
ke cermin itu. Lea semakin mendekat dan mulai mengajak tangannya juga untuk
menyetuh cermin di hadapannya.
“Astaga! Apa itu?!” pekik Lea
Ia
baru saja melihat jarinya masuk ke dalam cermin. Ini hal tergila yang pernah ia
alami seumur hidupnya.
Lea
mencobanya sekali lagi harap-harap yang tadi hanya ilusinya. Berkali-kali ia
mencoba menyetuh cermin dengan tangannya hal itu semakin terlihat nyata.
Mungkin ini yang ke lima kalinya Lea mengulurkan tangannya masuk ke dalam
cermin namun kali ini ia tidak menarik tangannya kembali. Ia terus memasukkan
tangannya ke dalam sana hingga setengah badannya berada di dalam cermin.
“Oh my godness!”
Lea
lantas menutup mulutnya agar seruannya tidak terdengar.
Dia
tidak percaya apa yang sedang dilihatnya. Matanya menelusuri setiap sudut
ruangan hingga ia sadar akan satu hal. Semua letak benda yang ada di ruanagn
ini persis sama dengan yang ada di kamarnya. Dia tidak menyangka bahwa sesuatu
di balik cermin kamarnya adalah ruangan yang serupa dengan miliknya. Namun
dengan nuansa warna yang berbeda. Jika kamar Lea berwarna pink, kamar ini
justru sebaliknya nuansa coklat menyelimuti ruangan. Tapi, hei tunggu dulu.
Tubuh
Lea sudah masuk sepenuhnya dia berjalan-jalan menelusuri ruangan ini lebih
jauh. Uniknya meskipun letak barang di kamar ini persis sama ternyata tidak
benar-benar sama karena semua barang yang ada di kamar ini terlihat kuno.
Misalnya saja tempat tidur di hadapan Lea ini ranjang kayu yang berkanopi
sedangkan miliknya tentu saja tempat tidur dengan model yang cukup modern. Hal
lainnya foto di samping ranjang terlihat foto laki-laki muda yang gagah
mengenakan baju khas pangeran dengan jubah berkibar sedangkan foto yang ada
dikamarnya tentu saja foto Idol korea kesukaanya.
“ZEPP!!”
Lea
yang tengah melihat-lihat seisi ruangan langsung membalikkan tubuhnya ke asal
suara. Gelombang air di cermin itu menghilang menyisakan cermin seperti
biasanya. Lea panik buru-buru mendekat ke arah cermin.
“Loh kok hilang?”
Lea
mengetuk-ngetuk cermin berharap permukaan cermin berubah menjadi gelombang air
seperti tadi tapi hampir lima menit ia berusaha hasilnya nihil. Lea menyerah
dia sekarang bingung entah berada di kamar siapa. Saat dalam keadaan tidak
menguntungkan seperti ini masalah malah bertambah. Muncul seorang laki-laki
muda dari balik pintu yang ada di ujung kanan tempat tidur.
“Hei,
siapa kau?” ucap laki-laki itu
Lea
tidak langsung menjawab dia tertegun karena melihat penampilan pria itu
menggunakan atribut lengkap pangeran seperti di film disney yang sering dia
tonton.
“Kau
pasti penyusup?” laki-laki itu langsung mengacungkan pedang yang tersampir
dekat pinggang.
“Wow,
wow chill! Penyusup? Tentu saja bukan”
“Lalu
siapa kau?”
Lea
malah balik bertanya, “Ini tempat apa?”
“Istana
Owen, bagaimana bisa kau tidak tau? Dan sekarang kau berada di kamarku”
“Hah?
Istana? Kamu pasti bercanda, tidak mungkin masih ada istana di jaman sekarang”
“Sebenarnya
kau ini siapa? Dan berasal dari mana?”
“Aku
bakal jelasin tapi sebelumnya bisa tidak kamu turunkan pedang itu dulu”
Laki-laki
itu menuruti omongan Lea, ia segera menurunkan pedangnya. Dia punya firasat
bahwa gadis di hadapannya ini tidak berbahaya.
“Aku
Leanna Raymonda, entahlah kamu akan percaya atau tidak tapi sungguh aku masuk
dari cermin itu” Lea menunjuk cermin tempat ia masuk ke dalam ruangan ini.
“Sekarang, siapa kamu?”
“Aku
Pangeran Altezza Owen”
Selepas
memperkenalkan diri satu sama lain mereka semakin larut dalam perbicangan. Lea
memberitahu asal usulnya dengan begitu Pangeran Al kini mengerti mengapa gaya
bicara Lea sangat santai dan terkadang ada beberapa kosa kata baru yang ia baru
dengar. Pangeran Al berusaha menyesuaikan gaya bicaranya dengan Lea.
Tidak
hanya sampai disitu kini mereka berdua bertanya-tanya apa yang sebenarnya
terjadi. Pangeran Al mempercayai ucapan Lea yang datang dari cermin karena
seminggu yang lalu ternyata ia mengalami hal serupa namun tidak seperti Lea.
Pangeran Al memilih untuk mencari tahu terlebih dahulu ketimbang masuk ke dalam
cermin yang entah ada apa di dalamnya.
“Sebaiknya
kamu tidur di sini untuk malam ini, besok pagi kita coba cari jalan keluarnya
agar kamu bisa kembali ke duniamu”
“Tidur
di sini? denganmu?”
Pangeran
Al menjawab dengan cepat, “Tentu saja tidak”
“Oh,
lalu kamu tidur dimana?”
“Aku
bisa tidur di ruang kerja Istana”
Pangeran
Al lantas pergi dari ruangan dan membiarkan Lea sendiri di kamar ini.
***
“HUAAAA”
“Selamat Pagi Nona” ucap gadis muda dengan
senyum ramah yang berada tepat di depan muka Lea
“Astaga! Siapa kamu?”
“Halo Nona, aku Mirabelle pelayan Istana.
Pangeran menyuruhku untuk membangunkanmu dan segera berganti pakaian”
“Pakaian apa ini?”
“Ini pakaian milik Putri Daby”
“Putri Daby? Siapa itu?”
“Pangeran akan segera kesini sebaiknya
Anda segera berganti pakaian Nona”
Mendengar
bahwa pangeran akan datang Lea langsung mematuhi perintah sang pelayan. Tepat saat
dia selesai berganti pakaian Pangeran Al masuk ke dalam kamar.
“Selamat pagi”
“Selamat pagi juga”
“Karena kamu sudah berganti pakaian mari
ikut denganku”
“Hei tunggu dulu, kenapa kamu kasih aku
baju aneh kaya gini?”
“Aneh? Justru pakaianmu yang semalem
sangatlah aneh. Kamu tidak sedang berada di duniamu orang-orang bisa curiga
jika kamu berpakaian seperti semalam”
“Sudahlah, ayo ikut denganku” kali ini
pangeran menarik lengan Lea agar segera ikut bersamanya.
Lea tidak menyangka bahwa pangeran akan
membawanya keluar Istana.
Lea tiba-tiba saja menarik lengan pangeran
agar menghentikan langkah mereka,“Tunggu, tunggu. Kamu tidak akan mengusirku
dari istana kan?”
“Untuk apa aku mengusirmu?”
“Lalu sekarang kita mau kemana?”
“Ke danau terbaik di Istana ini”
“Danau?”
Pangeran
tidak menjawab kebingungan Lea tapi malah meninggalkannya begitu saja. Meski
jengkel Lea memutuskan untuk tetap mengikuti langkah pangeran.
“Wahh” Lea takjub dengan pemandangan danau
yang begitu luas. Tadinya dia berpikir bahwa mereka sudah berada di luar Istana
tapi ternyata mereka baru keluar di halaman Istana. Entahlah dia berada di
dunia apa tapi luas Istana ini di luar dugaannya.
“Ayo duduk”
Pangeran
memutuskan mengajak Lea untuk duduk di tepi danau. Lea mendengar tapi dia tetap
berfokus ke pemandangan sekitar.
“Cepat duduk, ada yang ingin aku
bicarakan”
“Bicara apa?”
“Aku masih belum menemukan buku yang bisa
menjelaskan apa yang terjadi pada cermin itu sehingga bisa membawamu kemari”
“Memangnya ada buku di dunia ini yang
membahas itu?”
“Aku yakin ada. Kalau aku tidak salah
mengingat mendiang kakekku pernah bercerita mengenai dunia dalam cermin”
“Maksud kamu dunia ini ada di dalam
cermin?”
“Tentu saja tidak, duniamu yang berada
dalam cermin”
“Tidak mungkin. Duniaku jelas sekali
nyata”
“Terserah tapi aku percaya bahwa duniamu
yang berada dalam cermin”
“Terserah, aku juga memercayai bahwa
duniaku yang asli”
“Sudahlah, aku mengajakmu kesini bukan
untuk bertengkar”
“Kamu yang mulai duluan”
“Malam ini ada makan malam keluarga di
Istana dan aku sudah memberitahu Raja bahwa akan mengundang seorang teman yang
datang dari jauh”
“Maksudmu aku seorang teman yang datang
dari jauh itu?”
“Iya benar”
“Tidak mau, mana mungkin aku ketemu sama
Raja? Dia bakal curiga. Lihat, gaya bicaraku saja berbeda dengan kalian”
“Justru ini satu satunya cara agar kamu
tidak dicurigai. Malam ini aku akan mengajakmu ke perpustakaan Istana, kita
harus bersama-sama mencari buku itu. Kamu ingin terus bersembunyi sampai Raja
mengetahuinya dan menganggap kamu seorang penyusup?”
Lea menggeleng cepat.
“Maka dari itu ikuti saranku. Aku akan
membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang nanti Raja tanyakan”
Mau bagaimana lagi. Benar yang pangeran
katakan Lea tidak bisa selamanya bersembunyi hingga ia tertangkap dia memilih
menuruti saran pangeran.
***
Jika
saja Lea tahu bahwa yang menjadi tamu undangan bukan hanya dirinya dia akan
memikirkan terlebih dahulu saran pangeran. Lea baru saja datang dan hendak
duduk di sebelah pangeran tapi tiba-tiba saja pelayan menegurnya.
“Maaf Nona, kursi di sebelah sini milik
Nona Daby. Anda bisa duduk di kursi khusus tamu undangan mari saya antar”
“Ah iya maaf”
Lea
tersenyum kikuk. Pangeran yang berada di sampingnya menahan tawa dia lupa tidak
memberitahu Lea tentang beberapa aturan Istana. Di Istana selalu ada aturan
salah satunya posisi duduk saat di meja makan.
Selama
menunggu Raja datang Lea memperhatikan keluarga Istana lain yang sedang
berbincang dengan pangeran. Lea sepertinya mengerti gadis yang sering disebut
oleh pelayan Putri Daby adalah adik Pangeran Al. Dan ia juga menyadari satu hal
lagi gadis yang sejak tadi berada di seberang meja pangeran bernama Elvarette
Carvil adalah calon istri Pangeran Al. Dan makan malam ini di khususkan
membahas pernikahan mereka.
Setelah
beberapa saat Raja datang. Raja menyambut hangat keluarga Istana Carvil
terlebih dahulu kemudian juga menyambut Lea. Mereka menyantap makanan dengan
seksama dan sama sekali tidak ada suara yang keluar sebelum makan malam
selesai.
Ketika
Raja menyendok makanan terakhirnya semua orang yang ada di meja berhenti makan.
Semua orang terkecuali Lea. Istana ini memiliki aturan makan ketika Raja mulai
menyantap makanan maka yang lain pun ikut makan dan jika Raja sudah selesai
maka yang lain harus ikut selesai pula.
Lea
masih terus menyantap makanannya tanpa menyadari bahwa mata semua orang telah
tertuju padanya. Dia hanya fokus menatap piring di depannya. Pangeran memberi
kode dengan berdeham berharap Lea mengerti isyaratnya. Syukurlah Lea langsung
mengangkat kepalanya dan kini ia bingung karena semua orang di meja menatapnya.
Dia melihat semua orang di meja makan sudah menaruh kembali sendok di samping
kanan piring mereka. Ketika Lea masih terus melihat sekitar matanya tidak
sengaja bertemu dengan mata Raja ia langsung tersenyum kikuk dan buru-buru
menaruh sendoknya kembali di sebelah kanan piring.
Raja
yang menyadari hal tersebut membalas senyumnya dan berkata,“Sepertinya kau
datang dari tempat yang sangat jauh ya nak. Tapi sebelum aku bertanya lebih
jauh tentangmu pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada
keluarga Carvil karena sudah datang ke sini. Senang sekali rasanya bisa
berkumpul kembali dengan Kalian. Hari ini hari yang akan menghantarkan kita
pada hari bahagia persatuan Owen dengan Carvil”
“Dan di sini tamu undangan kita yang juga
datang dari jauh. Apa nama Istanamu?”
“A-aku datang dari Istana Raymonda”
“Aku baru pertama kali mendengarnya,
dimana itu?”
“Sangat jauh di bagian barat daya, jika
disebutkan ayah juga tidak akan tahu”
Kali ini Pangeran Al yang menjawab
“Ah baiklah, tidak penting asalmu
darimana. Jika kau berteman dengan pangeran berarti kau orang yang dapat di
percaya. Terima kasih telah datang mengunjungi Istana Owen”
“Aku juga berterima kasih karena telah di
sambut dengan hangat”
Beberapa
jam ke depan kedua keluarga tengah berdiskusi mengenai hari pernikahan Pangeran
Al dan Putri El. Lea hanya menyimak obrolan mereka.
“Aku ingin semua penduduk menggunakan
pakaian serba coklat” ucap Putri El
“Kenapa begitu sayang?” tanya Ibu Putri El
“Karena di Pesta pernikahan nanti aku dan
pangeran akan memakai serba putih warna kesukaanku dan coklat warna kesukaan
pangeran. Bagaimana menurutmu pangeran?”
“Iya, terserah kamu saja”
Terlihat
pangeran tidak antusias dalam menanggapi Putri El barusan dan itu membuat Putri
El ikut tidak senang wajahnya berubah muram.
Malam
ini ternyata bukan hanya Lea yang menginap di Istana tetapi juga keluarga
Carvil. Tampaknya rencana Lea dan pangeran untuk mengujungi perpustakaan Istana
akan sedikit sulit. Lea melihat setelah semuanya bubar dari meja makan Putri El
terus mengikuti pangeran. Putri El terus berbicara banyak hal dan pangeran
hanya mendengarkan.
Lea
memutuskan untuk pergi ke kamar tamu yang sudah disediakan. Dia berpikir nanti
juga pangeran akan mengetuk pintu kamarnya jika akan mengajaknya ke
perpustakaan. Belum sampai satu menit Lea menutup pintu kamarnya sudah ada yang
mengetuk. Lea berpikir bahwa itu mungkin pangeran.
Lea membuka pintu sambil bergumam, “Mau
pergi sekarang?”
“Apanya yang sekarang?”
Bola mata Lea hampir saja keluar. Betapa
terkejutnya Lea yang di hadapannya bukan pangeran melainkan Putri El.
“I-it-tuu eee.. bukan apa-apa”
Putri El tidak bertanya lagi namun dia
menanyakan hal lain.
“Sudah berapa lama kau kenal dengan
pangeran?”
Lea tidak langsung menjawab ia berpikir
sejenak.
“Sekitar satu tahun” jawab Lea asal
“Baru satu tahun dan pangeran mengundangmu
datang ke makan malam juga membiarkanmu menginap di Istana, sungguh sulit
dipercaya”
“Apanya yang sulit di percaya?”
“Pangeran bukan orang yang mudah percaya
dengan orang baru apalagi orang sepertimu” Putri El menyunggingkan senyum
meremehkan
“Memangnya menurutmu aku orang seperti
apa?”
“Kau terlihat bukan gadis yang baik. Saat
di meja makan tadi kau sama sekali tidak punya sopan santun. Dan Daby baru saja
memberitahuku bahwa pakaian yang kau kenakan ini juga miliknya. Pelayan
memperlihatkan dress hitam milikmu yang sangat buruk dan aneh itu. Bagaimana
bisa pangeran mempercayai orang sepertimu?”
Lea
berusaha menahan amarahnya jika saja dia tahu bahwa baju yang ia kenakan
merupakan merk paling mahal di dunianya.
“Kenapa kau tidak tanyakan saja pada
pangeran mengapa dia mempercayai orang aneh sepertiku?”
“Yah aku bisa bertan-“ belum sempat Putri
El menyelesaikan kalimatnya Lea sudah membalas
“Tapi sepertinya dia tidak tertarik untuk
memberitahumu”
“Hei, apa maksudmu berbicara seperti itu?
Dia calon suamiku tentu saja dia akan memberitahuku!”
“Benarkah? Sejak tadi ku perhatikan bahkan
hanya kau satu-satunya yang peduli soal penikahan kalian”
“Kenapa kau jadi membahas soal pernikahan
kami? Dan apa kau bilang hanya aku yang peduli? Maksudmu hanya aku yang ingin
menikah tetapi pangeran tidak? Akan ku laporkan pada pangeran apa yang baru
saja kamu katakan”
Belum sempat Lea membalas kalimat Putri
El, pangeran sudah datang menghampiri mereka.
“Ada apa ini?”
Putri El langsung mengadu kepada pangeran
apa yang baru saja Lea katakan kepadanya.
“Sudahlah, sebaiknya kau segera tidur.
Lagi pula ini hampir tengah malam untuk apa kau datang ke kamar Lea?”
“Aku hanya ingin tahu dia sebenarnya
siapa. Mengapa pangeran bisa sampai mengundangnya ke Istana”
“Aku sudah menjelaskannya, dia hanya
temanku. Sekarang pergilah ke kamarmu”
“Baiklah, tapi tunggu dulu”
“Apalagi?”
“Mengapa pangeran datang ke kamar Lea?”
“Aku hendak mengajaknya ke perpustakaan,
ada yang harus kami bicarakan”
“Aku ikut”
“Tidak bisa”
“Kenapa tidak? Aku calon istrimu”
“Ini hal penting yang harus di bicarakan
berdua, tidakkah kau mengerti?”
“Baiklah, maafkan aku pangeran”
Putri
El akhirnya meninggalkan Lea dan pangeran berdua saja. Setelah itu Lea dan
pangeran bergegas ke perpustakaan agar bisa menemukan buku Dunia Dalam Cermin
itu segera sebelum malam semakin larut.
Lea
takjub melihat isi perpustakaan ini rak besar dan tinggi ada di sekeliling
ruangan. Ia mulai berpikir bagaimana mungkin menemukan buku tersebut hanya
dalam satu malam. Pangeran seperti mengerti apa yang baru saja dipikirkan oleh
Lea ia berkata, “tidak perlu khawatir kita tidak akan memeriksa satu persatu
isi perpustakaan ini. Ada bagian perpustakaan yang dikategorikan buku-buku
penting, kita akan mencarinya di sana”
Mereka
bergegas ke bagian perpustakaan yang disebutkan oleh pangeran tadi. Meskipun
benar bagian buku-buku penting ini lebih sedikit daripada yang tadi ia lihat
saat awal masuk tapi ini tetap saja banyak. Butuh waktu berjam-jam untuk
mencarinya.
“Kita mencari secara berpencar. Aku akan
mencari di bagian sebelah kanan dan kamu sebelah kiri”
Lea mengangguk setuju.
Sekarang
hampir pukul 2 malam dan mereka sama sekali belum menemukan buku tersebut.
Mereka berdua berhenti sejenak. Pangeran menatap ke arah Lea dan dibalas dengan
gelengan kepala. Ini sudah kesekian kalinya pangeran bertanya namun Lea tetap
belum menemukannya.
“Kalau kaya gini lebih baik aku tidak usah
pulang saja” gerutu Lea
“Memang kamu akan tinggal di mana jika
tidak pulang ke duniamu?”
“Memang di mana lagi? Ya disini”
“Aku tidak bisa terus membiarkanmu tinggal
lebih lama”
“Kenapa?”
“Raja pasti akan curiga”
Lea
menghela napas pasrah. Kali ini Lea bangkit terlebih dahulu dia berusaha
kembali bersemangat mencari ke bagian yang belum sempat ia lihat. Dia melihat
satu buku dengan cover berwarna ungu tua. Lea tertarik dengan buku itu
dan berusaha meraihnya. Namun karena terlalu tinggi ia harus berjinjit meski
sebenarnya ia bisa menggunakan tangga untuk meraihnya. Buku itu hampir ia raih
tetapi alih-alih tertangkap oleh tangan buku itu hampir jatuh menimpa
kepalanya.
Pangeran
sejak tadi memperhatikan Lea. Menurutnya Lea lucu sekali sudah tahu tidak akan
sampai tapi masih memaksa untuk berjinjit. Padahal jika Lea meminta bantuan
pangeran akan senang hati menolongnya. Namun melihat buku itu akan jatuh
menimpa kepalanya pangeran bergegas meraih buku itu. Lea menutup mata dan
menghalangi kepalanya dengan tangan karena ia pikir buku itu akan mengenai
kepalanya.
Satu
detik. Dua detik. Buku itu tak kunjung mengenai kepalanya. Kali ini Lea membuka
mata dan mendogak ke atas. Bukan buku yang dia lihat justru muka pangeran yang
jaraknya kini begitu dekat dengan dirinya. Tidak mungkin bila Jatung Lea tidak berdebar
begitu cepat dengan jarak hanya lima senti tanpa sadar napasnya pun ikut
tertahan.
Beberapa
detik kemudian Lea tersadar dan menjauhkan tubuhnya dari pangeran. Ia berusaha
mengatur napas agar detak jantungnya kembali normal.
“Harusnya dari awal kamu inisiatif
membantu. Huh” Lea menggerutu kesal
Pangeran hanya tersenyum mendengarkan kekesalan
Lea. Saat Lea tengah meluapkan kekesalannya dia terpaku melihat buku yang
dipegang oleh pangeran.
“Hei, kita menemukannya Al!!!” seru Lea
dengan semangat
“Al?”
“Iya, lihat buku ditanganmu, DUNIA DALAM
CERMIN. KITA BERHASIL!”
Pangeran pun baru sadar bahwa buku yang
sejak tadi ia pegang adalah buku yang mereka cari. Tapi fokus pangeran tidak
langsung ke buku dia malah kembali bertanya.
“Kamu menyebutku apa tadi?”
“Hah? Menyebutmu apa?”
“Al? Kamu menyebutku Al?”
“I-iya memangnya ada masalah?” tanya Lea
dengan ragu
“Semua orang di Istana ini memanggilku
pangeran, hanya orang tuaku yang memanggilku begitu. Calon istriku saja
memanggilku pangeran”
“Ayolah jangan berlebihan, lagi pula aku
tidak datang dari dunia ini jadi tidak wajib mematuhi seluruh aturan yang ada
di sini. Kamu juga tahu bahwa aku biasa berbicara santai”
“Baiklah aku izinkan tapi jika dihadapan
orang lain jangan menyebut namaku. Orang-orang bisa curiga”
“Baik pangeran” Lea menjawab sambil
membungkukkan badannya seperti yang biasa para pelayan lakukan
Pangeran
tahu Lea sedang mengejeknya dia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Saat pertama kali Lea datang ke dunia ini dia sudah menganggap bahwa akan ada
hal-hal baru yang aneh yang ia temui dari gadis ini. Maka dari itu pangeran mencoba
untuk memahami tingkah lakunya. Dia tidak selalu menganggap serius ungkapan
tidak sopan Lea. Mungkin jika Lea melakukannya ke orang lain dia akan dianggap
sedang menghina keluarga kerajaan.
“Lalu sekarang apa?” tanya Lea
“Ayo kita baca”
Mereka
membuka lembar demi lembar buku itu dan membacanya dengan seksama. Keadaan
diperpustakaan menjadi hening baik pangeran maupun Lea fokus membaca buku.
Entah kenapa tiba-tiba Lea merasakan kepalanya mulai pusing, tulisan-tulisan
dalam buku mulai memudar setelah itu semuanya mulai gelap.
“Lea
Lea Leaa kamu kenapa? Hei sadarlah” Pangeran panik karena tiba-tiba saja tubuh
Lea ambruk ke dalam pangkuannya. Merasa usahanya membangunkan Lea sia-sia
pangeran membopong tubuh Lea berniat membawanya ke kamar. Jika memang Lea hanya
ketiduran harusnya Lea segera sadar saat pangeran berusaha membangunkannya
namun ini berbeda.
***
Kini
jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Satu setengah jam berlalu Lea belum juga
menunjukkan tanda-tanda ia akan segera sadar. Sejak tadi pangeran duduk di
samping ranjang sembari mengenggam erat tangan Lea. Entah ia sadar akan apa
yang ia lakukan atau tidak. Pangeran baru saja menemukan fakta mengejutkan dari
buku Dunia Dalam Cermin itu. Dia jadi semakin khawatir kalau-kalau Lea justru
tidak bangun.
Pangeran
mulai merasakan tangan Lea bergerak perlahan. Ia langsung menatap ke arah Lea,
mata Lea mulai terbuka sedikit demi sedikit. Kesadarannya mulai kembali.
“Dimana
aku? Kenapa kepalaku sakit?”
“Kamu
berada di kamar sekarang, tadi kamu tidak sadarkan diri saat diperpustakaan”
“Bukankah
tadi kita sedang membaca buku bersama?”
“Apa
kepalamu masih sangat sakit?”
“Hanya
sedikit”
“Akan
ku jelaskan jika kepalamu sudah tidak sakit”
“Eh,
menjelaskan apa? Sekarang saja. Ini sudah membaik kok”
“Seperti
yang kamu tahu banyak sekali bagian buku yang tulisannya memudar dan sulit di
baca. Namun ada satu bagian yang dapat ku baca dengan jelas dan itu bagian
terpenting yang menjelaskan kenapa kamu bisa tidak sadarkan diri”
“Apa
itu?”
“Buku
itu mengatakan bahwa cermin tempat kamu masuk ke dunia ini seperti sekat antara
dua dunia. Jadi bagimu duniaku yang berada dalam cermin, begitupun sebaliknya.
Sudah jelas bahwa kita hidup dalam dunia yang berbeda Lea. Dan ada aturan dalam
dunia ini karena di sini bukan duniamu maka kamu tidak akan bisa hidup di sini
dalam kurun waktu yang lama. Dunia ini tidak nyata bagimu, kamu akan mati jika
tidak segera kembali dalam jangka waktu tujuh hari”
“Lalu
bagaimana aku bisa keluar dari sini?!”
“Untuk
yang itu aku belum menemukan cara pasti bagaimana kamu bisa kembali ke duniamu
tapi aku rasa cermin itu permukaannya akan berubah menjadi gelombang air lagi
pada hari ke tujuh”
“Apa
yang membuatmu berpikir begitu?”
“Ingat
saat awal kita bertemu aku bercerita bahwa tepat seminggu yang lalu aku juga
melihat permukaan cermin di kamarku berubah menjadi seperti gelombang air jadi
aku rasa mungkin lima hari lagi cermin itu akan berubah dan seperti membuka
portal menuju duniamu”
“Ahh
aku paham”
“Setelah
ini aku akan berbicara dengan Raja mencari alasan agar dia bisa memaklumimu
untuk tinggal di sini sementara waktu”
***
Selama
beberapa hari ini Lea semakin dekat dengan pangeran. Mereka selalu berkeliling
istana setiap hari bahkan beberapa waktu lalu pangeran mengajarinya menunggangi
kuda.
Sebelumnya
pangeran mengajari Lea pendekatan dengan kuda sebelum ia menungganginya. Meski
awalnya Lea takut-takut namun semakin lama semakin rileks. Dia membelai surai
kuda dengan lembut dan hati-hati.
“Sepertinya
kamu sudah siap untuk menunggangi kuda”
“Benarkah?”
“Ayo
kita coba. Aku akan memberimu contoh terlebih dahulu bagaimana cara menaiki
kuda”
Lea
memperhatikan dengan seksama penjelasan pangeran.
“Pertama-tama
sejajarkan tubuhmu dengan bahu kuda lalu kau lihat pijakan ini”
Lea
membalas dengan anggukan.
“Ini
namanya sanggurdi, pijakan kaki kirimu di sini kemudian pegang pelana. Ingat,
tumpuannya ada pada lutut dan betis lalu dorong dirimu ke atas dan langkahi
pelananya”
Pangeran
kini berada di atas kuda, “Bisa kamu pahami?”
Lea
mengangguk dengan semangat.
“Aku
mau mencobanya”
Pangeran
turun dari atas kuda dan membiarkan Lea mencobanya. Butuh setengah jam bagi Lea
untuk berhasil naik ke atas kuda. Saat berada di atas kuda ekspresi Lea berubah
tegang karena ternyata di atas sini cukup tinggi dan dia takut jikalau jatuh.
“Jangan
panik Lea, kudanya bisa merasakan apa yang kamu rasakan”
“T-ta-ppi
di sini sangat menakutkan!”
Kuda
yang ditunggangi oleh Lea bergerak mulai tidak nyaman. Lea yang berada di
atasnya pun semakin panik. Pangeran di bawah sana terus meyakinkan Lea bahwa
jika dia rileks kudanya pun akan ikut rileks. Tapi Lea tidak terlalu
mendengarkan karena sudah begitu panik. Kuda yang ditungganginya pun semakin
lepas kendali hingga akhirnya Lea terlempar dari atas kuda.
“AAAAA”
jerit Lea
Untung
saja dengan sigap pangeran langsung menangkap tubuh Lea agar tidak terbentur ke
tanah. Kuda yang Lea tunggangi sudah berlari ke sana kemari tapi segera
ditenangkan oleh penjaga istana yang bertugas di kandang kuda ini.
Lea
masih terus memeluk pangeran dengan erat dia sangat ketakutan bahkan tanpa
sadar air matanya mulai mengalir. Pangeran yang melihat itu berusaha
menenangkan Lea.
“Tidak
apa apa Lea kamu sudah aman sekarang”
Lea
tetap memejamkan matanya erat-erat dan malah mengeratkan pelukannya pada
pangeran. Pangeran tidak protes meski harus menggendong tubuh Lea dalam jangka
waktu yang lumayan lama. Dia membiarkan Lea kembali tenang dengan sendirinya.
Sepuluh
menit berlalu Lea baru mau membuka matanya dan meminta pangeran menurunkannya.
“Maaf
kalau reaksiku terlalu berlebihan”
“Itu
hal yang wajar lagipula untuk pemula sepertimu kamu cepat belajar cara
menjinakan kuda dan menaikinya”
“Benarkah?”
Lea dengan cepat melupakan rasa takutnya dan bersemangat kembali mendengar
ucapan pangeran. Pangeran yang menyadari hal tersebut ikut tersenyum dan
mengusap puncak kepala Lea.
“Tentu
saja, kamu sangat berbakat kalau saja kamu bisa tinggal di sini lebih lama aku
akan mengajarimu setiap hari”
Wajah
Lea tersipu malu, pipinya sedikit memerah akibat pujian serta usapan pangeran
di puncak kepalanya.
“Ada
apa dengan wajahmu?”
“Tidak
apa-apa, i-ini hanya karena sinar matahari begitu terik mukaku jadi kepanasan.
Apa tadi katamu, akan mengajariku setiap hari? Aku bisa kembali lagi ke dunia
ini nanti berjanjilah kamu akan mengajariku”
“Aku
berjanji”
Lea
merasa kedekatannya dengan pangeran sudah bukan lagi sebatas teman. Dia merasa
nyaman jika bersama pangeran. Pangeran selalu memujinya, membuatnya tertawa,
bahkan pangeran selalu tersenyum setiap kali bersamanya dia merasa perlakukaan
pangeran justru lebih baik kepadanya ketimbang pada Putri El.
***
Lea
tengah duduk di tepi danau yang beberapa hari lalu ia kunjungi. Pangeran
menyuruhnya menunggu di sana. Seperti perkataan terakhir pangeran sekitar dua
hari lalu bahwa ia akan mencoba berbicara dengan Raja.
“Bagaimana
keadaanmu?” tanya pangeran yang tiba-tiba muncul duduk di sebelahnya
“Tidak
begitu baik, dadaku terus menerus sesak”
“Tinggal
dua hari lagi, bersabarlah”
“Jadi
apa pendapat Raja?”
“Dia
mengizinkanmu tinggal beberapa hari lagi bahkan lebih lama pun tidak masalah”
“Memangnya
kamu bilang apa?”
“Aku
bilang ibumu sakit keras dan kamu harus mencari obatnya di seluruh penjuru
dunia maka dari itu selama bertahun-tahun kamu berkelana kesana kemari namun
belum kunjung menemukan obat tersebut”
“Hei
mengapa kamu memakai alasan seperti itu?”
“Memangnya
kenapa?”
“Apakah
aku terlihat seperti gadis yang suka berkelana?”
“Sejujurnya,
tidak”
“Lalu
bagaimana Raja memercayainya?”
“Entah,
mungkin karena aku berbicara dengan serius. Waktumu tinggal dua hari lagi di
sini apakah kamu tidak mau berjalan-jalan keluar istana?”
“Boleh?”
“Tentu
saja, ayo kita keluar”
Setelah
berhari-hari mengdekap di dalam istana akhirnya Lea melihat luar istana yang
dipenuhi penduduk desa. Pemandangan di luar istana tidak kalah menakjubkan
dengan yang ada di dalam. Banyak sekali penduduk yang berjualan dari mulai
pernah pernik, bunga, makanan dan lain sebagainya. Bahkan ada sekelompok orang
yang memainkan alat musik mungkin di dunia Lea itu seperti live music.
Tanpa
menunggu pangeran Lea sudah lari menghampiri penduduk yang menjual pernak
pernik. Dia tertarik dengan salah satu liontin berbentuk dua angsa yang saling
menyatukan dua kepalanya.
“Halo
Nona, apakah anda mau membelinya?”
Ekspresi
Lea langsung berubah tersadar bahwa dia tidak memiliki uang. Dengan lesu dia
menggeleng ke arah si pedagang kemudian Lea berlalu begitu saja ke tempat lain.
Sepeninggalan
Lea pangeran tidak langsung mengikutinya ke tempat lain tetapi justru malah
berbicara dengan pedagang pernak pernik tadi. Dia berencana memberikan kejutan
pada Lea. Dia tidak bisa menahan senyum di wajahnya membayangkan reaksi Lea
yang pasti heboh jika tahu dia membeli liontin ini untuknya.
“Bisakah aku membeli ini?”
“Oh pangeran, tentu saja Anda tidak perlu
membayarnya”
“Aku akan membayarnya, tolong bungkus
dengan bagus”
“Tentu aku akan membungkusnya dengan baik.
Kau pasti akan menghadiahkan ini untuk calon istrimu bukan?”
Senyum di wajah pangeran seketika sirna.
Selama beberapa hari bersama Lea sangat membuatnya bahagia sampai membuat ia
lupa bahwa dia sudah memiliki tunangan.
“Bukan, hadiah ini untuk temanku”
“Teman? Apakah dia begitu spesial sehingga
kau menghadiahkannya sebuah liontin yang bermakna kesetiaan ini?”
“Ya dia sangat spesial”
Pedagang
hanya mangut-mangut tanda mengerti dia tidak mau bertanya hal macam-macam takut
membuat pangeran tersinggung dengan ucapannya. Pangeran pun segera membayar
liontin itu dan lanjut berjalan mencari keberadaan Lea.
Tak
terasa berjam-jam mengelilingi daerah sekitar istana kini hari mulai gelap.
Pangeran dan Lea tidak kembali ke istana mereka masih melanjutkan perjalan. Dan
di sinilah mereka sekarang di tengah danau dengan perahu kecil yang di ujungnya
hanya di hiasi satu lentera.
“Di sini sangat gelap, apakah tidak
sebaiknya kita pulang saja?”
“Sebentar lagi akan ada hal yang
menakjubkan”
Mereka
menunggu sekitar lima menit dan seperti yang diucapkan pangeran hal menakjubkan
itu mulai menampakkan wujudnya satu persatu. Lampion mulai berterbangan dari
arah pemukiman. Lea melihatnya dengan takjub tak pernah ia bayangkan bahwa
terjebak di dunia ini justru menjadi hal yang menyenangkan baginya.
“Mengapa orang-orang menerbangkan
lampion?”
“Karena hari ini ulang tahun anak pertama
Raja”
“Kamu?”
Pangeran membalas pertanyaan Lea dengan
senyuman ia selalu menyukai ekspresi Lea yang terkejut, antusias dan
bersemangat seperti itu. Ekspresi yang tidak ia temui pada gadis lain di dunia
ini. Semua gadis di dunia ini tentu saja tidak bisa seperti Lea mereka dituntut
untuk tetap anggun, menjaga sikap, tidak berlebihan saat mengekspresikan
sesuatu. Dan justru perbedaan itu yang membuat pangeran tertarik padanya.
“Aku tidak menyiapkan apa-apa, kenapa
tidak memberitahuku?”
“Memang kamu punya uang untuk membelikanku
sesuatu?”
“Ya setidaknya aku bisa mencari sesuatu
yang tidak perlu di beli”
“Apa?”
“Yasudahlah, karena sudah terlanjur aku
akan menggantinya dengan sebuah lagu”
Lea berdeham bersiap untuk menyanyikan
lagu Dimas Titis yang berjudul Happy Birthday To You.
Happy birthday to the sweetest man
To the warmest herat
It’s you
Yes it’s your day
When miracle meets grace you are always embrace
It’s true
Baru beberapa bait saja pangeran sudah
terpukau dengan suara indah Lea dia tidak menyangka gadis ini memiliki suara
yang begitu merdu. Pangeran memandangi wajah Lea yang penuh penghayatan dalam
menyanyikan lagu untuknya.
I wish you perfect done for everything
A joyful year and blessed
To make your gladness less
You’re always be your best
Happy birthday to you
Lea
terus meneruskan nyanyiannya hingga selesai tanpa menyadari bahwa pangeran
tengah memperhatikannya karena Lea memejamkan matanya sepanjang bernyanyi. Dan
saat Lea menyanyikan lirik terakhir sambil membuka mata tak sengaja mata
keduanya saling bertemu namun tak lama keduanya saling memalingkan pandangan.
Sadar bahwa suasana mulai sedikit canggung pangeran akhirnya memutuskan untuk
membuka suara lebih dahulu.
“Terima kasih untuk lagunya, meski aku
tidak begitu tahu lagu yang kamu nyanyikan itu tapi tetap kuucapkan terima
kasih karena telah menyanyikannya dengan sangat merdu. Apakah kamu berbakat
dalam bernyanyi?”
“Sama-sama. Aku tidak terlalu suka
bernyanyi”
“Kenapa? Suaramu sangat merdu”
“Benarkah? Aku hanya tidak yakin
orang-orang akan menyukai suaraku tapi mendengar pujianmu mungkin aku akan
memikirkannya lagi”
“Lea, ada yang ingin kuberikan padamu”
“Apa?”
Pangeran mengeluarkan kotak hitam berbentuk
lingkaran yang dibalut dengan pita berwarna putih. Ia menyodorkan kotak itu
kepada Lea.
“Apa ini?”
“Buka saja”
Lea tidak menyangka bahwa pangeran
diam-diam membelikannya liontin yang tadi ia mau.
“Kapan kamu membelinya?”
“Aku berikan itu sebagai oleh-oleh”
Lea tersenyum senang. Ia langsung memakai
liontin itu di lehernya.
“Bagaimana? Apakah ini cocok denganku?”
“Cantik” ucap pangeran tanpa sadar
“Hah apa tadi kamu bilang?”
“Eh maksudku cocok sekali”
Lea bertambah senang karena di puji
begitu. Ia terus memandangi liontin angsa itu tanpa henti.
“Lea, bisakah kita bertemu lagi setelah
ini?”
“Kenapa tidak bisa?”
“Eh memangnya kamu mau kembali lagi
kesini?”
“Kamu tidak mau mencoba mengunjungi
duniaku?”
“Aku rasa itu tidak mungkin. Jangankan
menghilang seminggu sepertimu beberapa jam saja aku menghilang seisi istana
akan langsung menyebar selembaran orang hilang”
“Kalau begitu aku saja yang ke sini lagi”
“Memangnya kamu mau?”
“Mau. Kalau aku bisa tinggal di sini
sekalian aku akan lebih senang”
“Aku akan menunggumu”
Lea menganggukkan kepala sebagai balasan.
Tiba-tiba terbesit pertanyaan yang selalu ingin Lea tanyakan sejak awal ia
berada di sini.
“Al, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentang apa?”
“Apakah kamu akan menikah dengan Putri
El?”
“Iya, bukankah kamu juga sudah tahu saat
makan malam waktu itu?”
“Aku tahu tapi maksudku apakah kamu
sendiri ingin menikahinya?”
“Mengapa kamu bertanya seperti itu?”
“Beberapa waktu lalu aku sering
memperhatikan tindakanmu pada Putri El. Kamu sepertinya selalu mengabaikan apa
yang dia katakan. Kamu juga tidak terlihat antusias dalam menyiapkan pernikahan
kalian. Apakah kamu benar ingin menikahinya?”
“Kalau pun aku tidak ingin menikahinya aku
harus tetap menikahinya. Orang tuaku pasti memberiku yang terbaik”
“Kamu percaya kalimat bahwa orang tua akan
memberikan yang terbaik untuk anaknya?”
“Memangnya kamu tidak?”
“Entahlah, aku hanya merasa meskipun
mereka tahu yang terbaik untukku aku tetap memiliki hak untuk menentukan jalan
hidupku”
“Kamu benar tapi aku tidak bisa begitu. Di
dunia ini ada aturan aku tidak bisa menentang Raja”
“Kenapa tidak? Hidupmu seharusnya milikmu
bukan milik kedua orang tuamu atau siapa pun itu”
“Kamu sangat berani ya. Andai aku bisa
sepertimu”
“Yah aku hanya tidak setuju saja kalau
kamu menikahi Putri El karena terpaksa”
“Kenapa tidak setuju?”
“Memang kamu tidak kasihan pada Putri El
jika tahu bahwa kamu hanya menikahinya karena terpaksa?”
“Itu sudah resiko lagi pula Putri El pasti
sadar akan hal itu Lea. Di dunia ini banyak sekali yang seperti kami jadi itu
sudah hal yang biasa”
“Kamu akan tetap menikahinya meski tidak
mencintainya?”
Pangeran tidak menjawab dia malah
mengalihkan pembicaraan.
“Malam sepertinya sudah semakin larut kita
harus bergegas pulang sebelum semakin gelap”
***
Sehari sebelum Lea pergi pangeran sempat
mengobrol banyak dengannya menanyakan jauh lebih dalam kehidupan sehari-hari
Lea di dunianya.
“Jadi kamu masih bersekolah?”
“Bukan sekolah, tapi universitas”
“Apa itu universitas?”
“Jenjang yang lebih tinggi daripada sekolah”
“Oh begitu. Selain itu di duniamu apa yang
biasanya orang seusia kita lakukan?”
“Ada yang bekerja dan ada pula yang sudah
menikah”
“Kamu sendiri sudah menikah?”
“Tentu saja belum”
“Tapi kalau laki-laki yang kamu sukai
ada?”
“Tadinya sebelum datang ke dunia ini tidak
ada tapi setelah datang ke sini ada satu laki-laki yang menarik perhatianku”
“Siapa? Pengawal Istana?”
“Hei tentu saja bukan! Kenapa harus
pengawal istana sih”
“Ha ha ha lagi pula pengawal istana di
sini cukup tampan”
“Tidak, tidak. Pria ini lebih tampan dia
sangat menarik perhatianku saat kita jalan-jalan di luar istana”
“Oh aku tahu, jangan jangan pedagang buah
yang kamu bilang wajahnya mirip artis di duniamu itu”
“Ihh bukan, kamu tidak akan tahu”
“Kalau begitu beritahu aku”
“Boleh saja tapi nanti”
“Kapan?”
“Besok”
Setelah berbincang tentang Lea mereka
mengganti topik pembicaraan.
“Bagaimana jika portal itu tidak muncul?
Apakah aku akan mati di sini?”
“Portal itu pasti muncul”
“Bagaimana jika tidak?”
“Sudahlah jangan berpikiran buruk. Lebih
baik sekarang kamu tidur”
Lea mencoba membuang pikiran buruknya.
Meskipun tinggal di sini menyenangkan tetapi tetap saja rasa sesak di dadanya
setiap hari kian bertambah rasa-rasanya oksigen di sini seperti semakin menipis
membuatnya tidak bisa bernafas begitu lama.
***
Tepat seperti dugaan pangeran cermin itu
membuka portal antar dunia lagi.
“Cepat pergilah”
“Tidak akan ada salam perpisahan huh?”
“Mukamu sudah pucat masih ingin salam
perpisahan?”
“Iya iyaa aku masuk sekarang”
Lea
mulai memasukkan tangannya terlebih dahulu seperti seminggu yang lalu ia
lakukan. Tubuh Lea perlahan juga mulai ikut masuk hingga sepenuhnya tubuhnya
hilang. Pangeran kira semuanya sudah selesai tapi ternyata Lea memunculkan
kepalanya kembali.
“Aku lupa memberitahumu satu hal”
“Apa?”
“Laki-laki yang menarik perhatianku,” Lea
mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya, “orang itu
kamu”
“Sampai bertemu satu minggu lagi pangeran”
Lea
tidak menunggu reaksi pangeran ia langsung menarik kembali dirinya lenyap dari
portal itu. Pangeran tersenyum menanggapi kalimat Lea barusan dia juga sudah
menduganya.
“Aku
akan menunggumu kembali Lea”
Setelah
seminggu menghilang dan muncul secara tiba-tiba tentu saja membuat seisi rumah
gempar dengan kedatangan Lea. Mama yang selama seminggu terus menangis karena
takut putri sematawayangnya tidak kembali lagi ke rumah.
“MAMA! PAPA!” Lea berseru senang
“Leaaa” Mama menghamburkan pelukannya pada
Lea rasanya sangat campur aduk setelah berhari-hari ia pergi.
Lea membalas pelukan Mama nya. Setelah
berjam-jam dalam dekapan Mama Lea kini melihat ke arah Papa. Dia pikir reaksi
Papa akan seperti Mama namun Papa justru menunjukkan amarah dari sorot matanya.
“Setelah merusak makan malam lalu pergi
meninggalkan rumah berhari-hari kamu pikir itu sikap yang baik hah?!”
“Pa, Lea bisa jelasin”
“Kamu pikir dengan cara memberontak
seperti itu kami akan menuruti kemauanmu?”
“Apanya yang memberontak?”
“Kamu kabur dari rumah berhari-hari lalu
apa namanya kalau bukan memberontak?”
“Aku ga memberontak Pa. Aku bisa jelasin
semuanya”
“Pa, dengerin dulu penjelasan Lea” ucap
Mama berusaha menengahi
“Kamu urus saja anakmu itu, saya sudah
tidak tahan” ucap Papa sambil berlalu begitu saja meninggalkan Lea dan Mama.
“Tidak perlu terlalu di dengarkan ucapan
Papamu tadi. Kamu tahu kan Papamu kesal sekali saat makan malam itu ditambah
kamu yang tiba-tiba menghilang dia pasti sama khawatirnya dengan Mama”
“Khawatir? Sepertinya Papa lebih
mengkhawatirkan citranya di hadapan keluarga Myles daripada mengkhawatirkan
aku”
“Tidak mungkin begitu Lea”
“Dari Lea kecil sampai sekarang selalu
hanya Mama yang khawatirin Lea. Papa mana ada waktu untuk itu, iya kan?”
“Lee jangan ngomong begitu”
“Lea mau ke kamar aja”
“Tunggu dulu, kamu belum ngasih penjelasan
ke Mama kemana aja kamu selama seminggu ini?”
Akhirnya Lea mengarang cerita bahwa dia
menginap di rumah temannya yang Mama dan Papa tidak pernah kenal maka dari itu
saat mereka mengontak semua teman-temannya tidak ada satu pun dari mereka tahu
keberadaan Lea.
***
Satu
minggu berlalu Lea kembali lagi masuk ke Dunia Dalam Cermin ini untuk menepati
ucapannya pada pangeran. Ketika masuk dia menduga kamar itu akan kosong saat
seperti pertama kali dia datang atau mungkin ada pangeran di sana yang sedang
melakukan sesuatu di kamarnya. Tapi kedua dugaan itu salah. Alih-alih pangeran
justru Putri El yang berada di sana entah apa yang sedang ia lakukan tapi Putri
El berdiri di depan cermin dengan dress putih, mahkota yang mewah dan wedding
veil di belakang kepalanya.
“AAAAA”
Lea
menutup telinganya karena mendengar jeritan Putri El.
“Apa
yang kamu lakukan di sini?”
“Bukankah
seharusnya aku yang bertanya begitu? Bagaimana bisa kamu keluar dari cermin
huh?”
“Bukan
urusanmu, aku datang mencari pangeran. Dimana dia?”
“Apakah
kamu tidak bisa melihat?”
“Apa?”
Putri
El memperlihatkan jari-jari tangan kanannya dia bermaksud menunjukkan cincin di
jari manisnya.
“Kami
sudah resmi menikah. Aku dan Pangeran Al sudah menjadi pasangan”
“Tidak
mungkin, memangnya dia mencintaimu?”
“Tentu
saja dia mencintaiku kalau tidak mana mungkin dia buru-buru melangsungkan
pernikahan kami”
Pintu
kamar terbuka memperlihatkan pangeran tengah berdiri dengan baju khas pengantin
pria Istana dan warnanya senada dengan gaun yang dikenakan Putri El.
“Ada
apa ini? Bukankah kamu berjanji menungguku datang ke sini lagi?”
Bukannya
menjawab pertanyaan Lea pangeran justru membalasnya dengan pertanyaan lagi,
“Apa yang kamu lakukan di sini Lea?”
“Kamu
lupa? Aku sudah berjanji akan menemuimu seminggu lagi”
“El
bisakah kamu membiarkan kami berbicara berdua saja?”
Meski
sebenarnya enggan tetapi Putri El akhirnya memilih meninggalkan kamar pangeran.
Lagi pula dia tidak perlu khawatir karena pangeran kini sudah resmi menjadi
suaminya.
“Kamu
bilang kamu tidak mencintainya lalu mengapa menikah dengannya?”
“Lea
sudah aku bilang bahwa di duniaku ada aturan”
“Tapi
kamu bisa menolaknya. Kamu bisa mencari gadis lain atau menikah denganku saja!”
“Tidak
bisa denganmu Lea”
“Kenapa
tidak? Aku menyukaimu, kamu menyukaiku kita bisa melanjutkan hubungan ini
sampai akhirnya saling mencintai”
“Kita
tetap tidak bisa karena bukan itu permasalahannya”
“Lalu
apa masalahnya?”
“Kita
tidak hidup di dunia yang sama maka mustahil juga kita bisa menikah. Jika kita
menikah memangnya kita akan tinggal di mana? Tidak mungkin aku ikut ke duniamu
begitupun sebaliknya”
“Aku
bisa ikut bersamamu sebagai seorang istri di duniaku mereka harus patuh
terhadap perintah suami dan ikut dengannya. Jadi aku bisa ikut denganmu jika
memang kita menikah”
“Itu
yang menjadi masalahnya. Aku sudah membaca seluruh isi buku Dunia Dalam Cermin.
Buku itu mengatakan bahwa di duniaku kamu tidak nyata, begitupun sebaliknya
karena hal tersebut juga jika kamu menjalin ikatan resmi pernikahan denganku
maka kamu menjadi nyata dan duniamu hancur. Seluruh duniamu akan lenyap
seketika bahkan orang tuamu akan ikut menghilang. Dan sebaliknya aku juga tidak
bisa membiarkan dunia ini hancur hanya untuk tetap tinggal bersamamu itu
sebabnya aku memutuskan untuk menikahi Putri El. Jujur saja aku memang
menyukaimu tapi untukku kamu tidaklah nyata”
“Aku
bisa meninggalkan duniaku dan hidup bersamamu!” Lea menjawab tanpa keraguan.
“Apa
kamu yakin?”
“Sangat
yakin!”
“Kamu
tidak keberatan jika harus kehilangan orang tuamu”
“Itu
bukan masalah besar”
Pangeran
terkejut dengan jawaban yang Lea berikan. Dia pikir Lea hanya jawab asal tanpa
memikirkannya tapi setelah mendengar penjelasan Lea dia mengerti Lea rela
mengobarkan orang tuanya.
“Aku
tetap tidak bisa menikahimu Lea”
“Kenapa
tidak bisa? Aku sudah memilih untuk ikut denganmu”
“Pertama,
aku baru saja menikah dengan Putri El tidak mungkin aku meninggalkannya. Kedua,
kamu memang gadis yang menarik sekali bagiku tidak ada perempuan di dunia ini
yang pernah berhasil menarik perhatianku tetapi setelah mendengar jawabanmu
tadi aku semakin yakin bahwa kita tidak bisa bersama. Aku tidak bisa mencintai
gadis yang tidak mencintai kedua orang tuanya”
Lea
tersadar setelah mendengar ucapan terakhir pangeran. Dia langsung merenungi hal
tersebut. Apa yang sudah dia lakukan? Bisa-bisanya dia berpikir rela
mengobarkan orang tuanya.
“Lalu
sekarang apa?” ucap Lea tidak bersemangat. Kini dadanya begitu sesak padahal
tujuan awal dia datang kemari adalah menghabisi hari-hari seperti hari kemarin
ia terjebak di sini bersama pangeran.
“Pulanglah
Lea, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Aku sekarang sudah memiliki istri”
“Tapi
kamu tidak mencintainya!”
“Cukup
Lea. Aku hanya belum mencintainya bukan tidak. Berhentilah menyamakan duniaku
dengan duniamu. Aku sudah bilang di sini ada aturan. Aku harus menikah
berdasarkan perjodohan dan itu yang terbaik,”
“Jadi
sekarang aku mohon pulanglah, kamu tidak boleh terjebak lagi di sini”
Dengan
berat hati Lea membalikkan tubuhnya dan beranjak masuk ke dalam cermin. Ia
pulang dengan perasaan yang begitu sakit. Yang tadinya ia pikir jalannya akan
begitu mulus ternyata justru malah semakin rumit.
Pangeran
terus menatap cermin di depannya meski dengan perasaan yang sama sakitnya
dengan Lea dia harus berpikir logis. Dengan cepat ia mengambil benda berat apa
saja yang ada di kamarnya lalu ia lemparkan ke cermin. Tujuannya berhasil ia
memang ingin membuat cermin itu pecah dan seketika portal menghilang.
Sementara
itu Lea yang berada di balik cermin terkejut mendengar suara berdentum kencang.
“BUMMM!”
Portal
itu tertutup tapi suara portal tertutup itu tidak seperti kemarin. Hingga
seminggu berikutnya datang portal itu tidak muncul kembali dan kini Lea tahu
bahwa kemungkinan pangeran yang menghilangkannya dengan suara berdentum
kemarin.
Setahun
berlalu Lea kini tengah duduk di meja dengan laptop dihadapannya. Dia baru saja
menyelesaikan satu buah cerita berjudul World In The Mirror. Dua bulan lalu Lea
memutuskan untuk rutin menulis di akun blognya hingga akhirnya hari ini ia
berhasil menuntaskan cerita pertamanya.
Pembacanya
mungkin berpikir tulisannya ini hanya fiksi belaka namun siapa sangka seluruh
kejadian diambilnya dari kisah nyata.
Komentar
Posting Komentar