Cerpen by Meira Zaliyanti

 

WORLD IN THE MIRROR
by Meira Zaliyanti

Malam yang paling Leanna benci akhirnya tiba juga. Makan malam yang begitu mewah dan sopan ala keluarga konglomerat. Di saat yang lain dengan khidmat menyantap makan malamnya tidak dengan Leanna. Ia ingin segera mengakhiri makan malam ini.

“Lea, kamu sedang sakit?” tanya wanita paruh baya di seberang meja makan

“Tidak, hanya saja tujuan dari makan malam ini sangat menjengkelkan” jawab Lea

Kedua orang tua Lea sontak kaget mendengar anaknya berbicara begitu. Tentu saja kaget, ini acara makan malam yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Makan malam ini digelar bertujuan membicarakan pertunangan sekaligus pernikahan antara Leanna Raymonda dan Arlo Myles.

Meskipun Lea tidak salah jengkel karena pernikahannya didasari kerja sama bisnis keluarga Raymonda dan Myles. Bagi Lea pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan ia tidak mau mengorbankan masa depannya hanya demi bisnis.

“Lea jaga bicaramu” ucap Papa Lea

“What?” balas Lea dengan nada malas

“Lea tidak suka dengan cara kalian yang seperti ini. Bukan kemauan aku untuk menikah dengan Arlo. Aku berhak menentukan jalan hidupku Pa, Ma”

Papa geram mendengar ucapan anak sematawayangnya. Mama memegang tangannya berharap dapat meredakan emosi Papa. Sementara di seberang meja keluarga Myles sudah memasang muka tidak enak karena mendengar ucapan Lea.

Saat Papa hendak berdiri untuk menghampiri Lea yang terhalang satu kursi dengannya tiba-tiba saja Ayah Arlo dari keluarga Myles berdiri terlebih dahulu.

“Saya ucapkan terima kasih untuk makan malamnya mungkin kita bisa membicarakannya lain waktu atau tidak perlu sama sekali karena saya rasa anak kami juga tidak bisa menikahi gadis yang tidak tahu sopan santun”

Ayah Arlo berjalan lebih dulu meninggalkan meja makan diikuti Bunda Arlo dan Arlo.

Melihat hal tersebut Papa sangat marah pada Lea.

“Harusnya aku yang marah di sini. Kalian tidak bisa seenaknya mengatur hidupku dengan siapa aku harus menikah dan dengan siapa aku harus jatuh cinta. Kalian tidak berhak” seru Lea

“Kamu pikir kamu siapa? Kamu bisa hidup dengan kemewahan ini karena kami jadi sudah seharusnya kamu patuh!”

Lea tahu dirinya hanya seorang anak tapi bukan berarti ia pantas diperlakukan seperti ini. Omongan Papa memang benar dia bisa hidup layak dan mewah berkat kedua orang tuanya. Namun bagi Lea hal tersebut bukan alasan yang bisa menjadikan orang tuanya punya hak penuh mengatur terus menerus hidupnya.

“Kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu” kali ini Mama memberi suara

“Oh yang terbaik menurut kalian itu menjual anaknya demi menyukseskan bisnis begitu?”

“Lea bicaramu sudah sangat keterlaluan. Mama melahirkan kamu dengan susah payah jadi mana mungkin dengan teganya menjual kamu. Mama kecewa dengan pemikiran kamu yang seperti itu.”

Hening sejenak. Lea memutuskan untuk pergi dari meja makan menuju kamarnya.

***

Di depan cermin Lea melihat wajahnya sendiri yang tampak gusar.

“Kamu tidak salah Lea”

“Mereka yang tidak mengerti kamu”

“Seenaknya menganggap kamu boneka yang bisa diatur”

Lea melampiaskan kekesalannya di depan cermin. Ia terus mengoceh meyakinkan bahwa dia berhak atas apa yang dia ucapkan di meja makan.

“Wait, what is that?” seru Lea sambil mengucek kedua matanya

Ia baru saja melihat seseorang lewat di cermin. Namun anehnya orang itu tidak seperti pantulan dalam cermin melainkan berada di dalam cermin. Lea mengecek sekelilingnya tidak ada apapun selain dirinya dan kasur besar di belakangnya.

Lea kembali menatap cermin kali ini ia dikejutkan dengan permukaan cermin yang berubah seperti air bergelombang. Dengan rasa penasaran Lea mendekatkan dirinya ke cermin itu. Lea semakin mendekat dan mulai mengajak tangannya juga untuk menyetuh cermin di hadapannya.

“Astaga! Apa itu?!” pekik Lea

Ia baru saja melihat jarinya masuk ke dalam cermin. Ini hal tergila yang pernah ia alami seumur hidupnya.

Lea mencobanya sekali lagi harap-harap yang tadi hanya ilusinya. Berkali-kali ia mencoba menyetuh cermin dengan tangannya hal itu semakin terlihat nyata. Mungkin ini yang ke lima kalinya Lea mengulurkan tangannya masuk ke dalam cermin namun kali ini ia tidak menarik tangannya kembali. Ia terus memasukkan tangannya ke dalam sana hingga setengah badannya berada di dalam cermin.

“Oh my godness!”

Lea lantas menutup mulutnya agar seruannya tidak terdengar.

Dia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan hingga ia sadar akan satu hal. Semua letak benda yang ada di ruanagn ini persis sama dengan yang ada di kamarnya. Dia tidak menyangka bahwa sesuatu di balik cermin kamarnya adalah ruangan yang serupa dengan miliknya. Namun dengan nuansa warna yang berbeda. Jika kamar Lea berwarna pink, kamar ini justru sebaliknya nuansa coklat menyelimuti ruangan. Tapi, hei tunggu dulu.

Tubuh Lea sudah masuk sepenuhnya dia berjalan-jalan menelusuri ruangan ini lebih jauh. Uniknya meskipun letak barang di kamar ini persis sama ternyata tidak benar-benar sama karena semua barang yang ada di kamar ini terlihat kuno. Misalnya saja tempat tidur di hadapan Lea ini ranjang kayu yang berkanopi sedangkan miliknya tentu saja tempat tidur dengan model yang cukup modern. Hal lainnya foto di samping ranjang terlihat foto laki-laki muda yang gagah mengenakan baju khas pangeran dengan jubah berkibar sedangkan foto yang ada dikamarnya tentu saja foto Idol korea kesukaanya.

“ZEPP!!”

Lea yang tengah melihat-lihat seisi ruangan langsung membalikkan tubuhnya ke asal suara. Gelombang air di cermin itu menghilang menyisakan cermin seperti biasanya. Lea panik buru-buru mendekat ke arah cermin.

“Loh kok hilang?”

Lea mengetuk-ngetuk cermin berharap permukaan cermin berubah menjadi gelombang air seperti tadi tapi hampir lima menit ia berusaha hasilnya nihil. Lea menyerah dia sekarang bingung entah berada di kamar siapa. Saat dalam keadaan tidak menguntungkan seperti ini masalah malah bertambah. Muncul seorang laki-laki muda dari balik pintu yang ada di ujung kanan tempat tidur.

“Hei, siapa kau?” ucap laki-laki itu

Lea tidak langsung menjawab dia tertegun karena melihat penampilan pria itu menggunakan atribut lengkap pangeran seperti di film disney yang sering dia tonton.

“Kau pasti penyusup?” laki-laki itu langsung mengacungkan pedang yang tersampir dekat pinggang.

“Wow, wow chill! Penyusup? Tentu saja bukan”

“Lalu siapa kau?”

Lea malah balik bertanya, “Ini tempat apa?”

“Istana Owen, bagaimana bisa kau tidak tau? Dan sekarang kau berada di kamarku”

“Hah? Istana? Kamu pasti bercanda, tidak mungkin masih ada istana di jaman sekarang”

“Sebenarnya kau ini siapa? Dan berasal dari mana?”

“Aku bakal jelasin tapi sebelumnya bisa tidak kamu turunkan pedang itu dulu”

Laki-laki itu menuruti omongan Lea, ia segera menurunkan pedangnya. Dia punya firasat bahwa gadis di hadapannya ini tidak berbahaya.

“Aku Leanna Raymonda, entahlah kamu akan percaya atau tidak tapi sungguh aku masuk dari cermin itu” Lea menunjuk cermin tempat ia masuk ke dalam ruangan ini. “Sekarang, siapa kamu?”

“Aku Pangeran Altezza Owen”

Selepas memperkenalkan diri satu sama lain mereka semakin larut dalam perbicangan. Lea memberitahu asal usulnya dengan begitu Pangeran Al kini mengerti mengapa gaya bicara Lea sangat santai dan terkadang ada beberapa kosa kata baru yang ia baru dengar. Pangeran Al berusaha menyesuaikan gaya bicaranya dengan Lea.

Tidak hanya sampai disitu kini mereka berdua bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Pangeran Al mempercayai ucapan Lea yang datang dari cermin karena seminggu yang lalu ternyata ia mengalami hal serupa namun tidak seperti Lea. Pangeran Al memilih untuk mencari tahu terlebih dahulu ketimbang masuk ke dalam cermin yang entah ada apa di dalamnya.

“Sebaiknya kamu tidur di sini untuk malam ini, besok pagi kita coba cari jalan keluarnya agar kamu bisa kembali ke duniamu”

“Tidur di sini? denganmu?”

Pangeran Al menjawab dengan cepat, “Tentu saja tidak”

“Oh, lalu kamu tidur dimana?”

“Aku bisa tidur di ruang kerja Istana”

Pangeran Al lantas pergi dari ruangan dan membiarkan Lea sendiri di kamar ini.

***

“HUAAAA”

“Selamat Pagi Nona” ucap gadis muda dengan senyum ramah yang berada tepat di depan muka Lea

“Astaga! Siapa kamu?”

“Halo Nona, aku Mirabelle pelayan Istana. Pangeran menyuruhku untuk membangunkanmu dan segera berganti pakaian”

“Pakaian apa ini?”

“Ini pakaian milik Putri Daby”

“Putri Daby? Siapa itu?”

“Pangeran akan segera kesini sebaiknya Anda segera berganti pakaian Nona”

Mendengar bahwa pangeran akan datang Lea langsung mematuhi perintah sang pelayan. Tepat saat dia selesai berganti pakaian Pangeran Al masuk ke dalam kamar.

“Selamat pagi”

“Selamat pagi juga”

“Karena kamu sudah berganti pakaian mari ikut denganku”

“Hei tunggu dulu, kenapa kamu kasih aku baju aneh kaya gini?”

“Aneh? Justru pakaianmu yang semalem sangatlah aneh. Kamu tidak sedang berada di duniamu orang-orang bisa curiga jika kamu berpakaian seperti semalam”

“Sudahlah, ayo ikut denganku” kali ini pangeran menarik lengan Lea agar segera ikut bersamanya.

Lea tidak menyangka bahwa pangeran akan membawanya keluar Istana.

Lea tiba-tiba saja menarik lengan pangeran agar menghentikan langkah mereka,“Tunggu, tunggu. Kamu tidak akan mengusirku dari istana kan?”

“Untuk apa aku mengusirmu?”

“Lalu sekarang kita mau kemana?”

“Ke danau terbaik di Istana ini”

“Danau?”

Pangeran tidak menjawab kebingungan Lea tapi malah meninggalkannya begitu saja. Meski jengkel Lea memutuskan untuk tetap mengikuti langkah pangeran.

“Wahh” Lea takjub dengan pemandangan danau yang begitu luas. Tadinya dia berpikir bahwa mereka sudah berada di luar Istana tapi ternyata mereka baru keluar di halaman Istana. Entahlah dia berada di dunia apa tapi luas Istana ini di luar dugaannya.

“Ayo duduk”

Pangeran memutuskan mengajak Lea untuk duduk di tepi danau. Lea mendengar tapi dia tetap berfokus ke pemandangan sekitar.

“Cepat duduk, ada yang ingin aku bicarakan”

“Bicara apa?”

“Aku masih belum menemukan buku yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada cermin itu sehingga bisa membawamu kemari”

“Memangnya ada buku di dunia ini yang membahas itu?”

“Aku yakin ada. Kalau aku tidak salah mengingat mendiang kakekku pernah bercerita mengenai dunia dalam cermin”

“Maksud kamu dunia ini ada di dalam cermin?”

“Tentu saja tidak, duniamu yang berada dalam cermin”

“Tidak mungkin. Duniaku jelas sekali nyata”

“Terserah tapi aku percaya bahwa duniamu yang berada dalam cermin”

“Terserah, aku juga memercayai bahwa duniaku yang asli”

“Sudahlah, aku mengajakmu kesini bukan untuk bertengkar”

“Kamu yang mulai duluan”

“Malam ini ada makan malam keluarga di Istana dan aku sudah memberitahu Raja bahwa akan mengundang seorang teman yang datang dari jauh”

“Maksudmu aku seorang teman yang datang dari jauh itu?”

“Iya benar”

“Tidak mau, mana mungkin aku ketemu sama Raja? Dia bakal curiga. Lihat, gaya bicaraku saja berbeda dengan kalian”

“Justru ini satu satunya cara agar kamu tidak dicurigai. Malam ini aku akan mengajakmu ke perpustakaan Istana, kita harus bersama-sama mencari buku itu. Kamu ingin terus bersembunyi sampai Raja mengetahuinya dan menganggap kamu seorang penyusup?”

Lea menggeleng cepat.

“Maka dari itu ikuti saranku. Aku akan membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang nanti Raja tanyakan”

Mau bagaimana lagi. Benar yang pangeran katakan Lea tidak bisa selamanya bersembunyi hingga ia tertangkap dia memilih menuruti saran pangeran.

***

Jika saja Lea tahu bahwa yang menjadi tamu undangan bukan hanya dirinya dia akan memikirkan terlebih dahulu saran pangeran. Lea baru saja datang dan hendak duduk di sebelah pangeran tapi tiba-tiba saja pelayan menegurnya.

“Maaf Nona, kursi di sebelah sini milik Nona Daby. Anda bisa duduk di kursi khusus tamu undangan mari saya antar”

“Ah iya maaf”

Lea tersenyum kikuk. Pangeran yang berada di sampingnya menahan tawa dia lupa tidak memberitahu Lea tentang beberapa aturan Istana. Di Istana selalu ada aturan salah satunya posisi duduk saat di meja makan.

Selama menunggu Raja datang Lea memperhatikan keluarga Istana lain yang sedang berbincang dengan pangeran. Lea sepertinya mengerti gadis yang sering disebut oleh pelayan Putri Daby adalah adik Pangeran Al. Dan ia juga menyadari satu hal lagi gadis yang sejak tadi berada di seberang meja pangeran bernama Elvarette Carvil adalah calon istri Pangeran Al. Dan makan malam ini di khususkan membahas pernikahan mereka.

Setelah beberapa saat Raja datang. Raja menyambut hangat keluarga Istana Carvil terlebih dahulu kemudian juga menyambut Lea. Mereka menyantap makanan dengan seksama dan sama sekali tidak ada suara yang keluar sebelum makan malam selesai.

Ketika Raja menyendok makanan terakhirnya semua orang yang ada di meja berhenti makan. Semua orang terkecuali Lea. Istana ini memiliki aturan makan ketika Raja mulai menyantap makanan maka yang lain pun ikut makan dan jika Raja sudah selesai maka yang lain harus ikut selesai pula.

Lea masih terus menyantap makanannya tanpa menyadari bahwa mata semua orang telah tertuju padanya. Dia hanya fokus menatap piring di depannya. Pangeran memberi kode dengan berdeham berharap Lea mengerti isyaratnya. Syukurlah Lea langsung mengangkat kepalanya dan kini ia bingung karena semua orang di meja menatapnya. Dia melihat semua orang di meja makan sudah menaruh kembali sendok di samping kanan piring mereka. Ketika Lea masih terus melihat sekitar matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Raja ia langsung tersenyum kikuk dan buru-buru menaruh sendoknya kembali di sebelah kanan piring.

Raja yang menyadari hal tersebut membalas senyumnya dan berkata,“Sepertinya kau datang dari tempat yang sangat jauh ya nak. Tapi sebelum aku bertanya lebih jauh tentangmu pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada keluarga Carvil karena sudah datang ke sini. Senang sekali rasanya bisa berkumpul kembali dengan Kalian. Hari ini hari yang akan menghantarkan kita pada hari bahagia persatuan Owen dengan Carvil”

“Dan di sini tamu undangan kita yang juga datang dari jauh. Apa nama Istanamu?”

“A-aku datang dari Istana Raymonda”

“Aku baru pertama kali mendengarnya, dimana itu?”

“Sangat jauh di bagian barat daya, jika disebutkan ayah juga tidak akan tahu”

Kali ini Pangeran Al yang menjawab

“Ah baiklah, tidak penting asalmu darimana. Jika kau berteman dengan pangeran berarti kau orang yang dapat di percaya. Terima kasih telah datang mengunjungi Istana Owen”

“Aku juga berterima kasih karena telah di sambut dengan hangat”

Beberapa jam ke depan kedua keluarga tengah berdiskusi mengenai hari pernikahan Pangeran Al dan Putri El. Lea hanya menyimak obrolan mereka.

“Aku ingin semua penduduk menggunakan pakaian serba coklat” ucap Putri El

“Kenapa begitu sayang?” tanya Ibu Putri El

“Karena di Pesta pernikahan nanti aku dan pangeran akan memakai serba putih warna kesukaanku dan coklat warna kesukaan pangeran. Bagaimana menurutmu pangeran?”

“Iya, terserah kamu saja”

Terlihat pangeran tidak antusias dalam menanggapi Putri El barusan dan itu membuat Putri El ikut tidak senang wajahnya berubah muram.

Malam ini ternyata bukan hanya Lea yang menginap di Istana tetapi juga keluarga Carvil. Tampaknya rencana Lea dan pangeran untuk mengujungi perpustakaan Istana akan sedikit sulit. Lea melihat setelah semuanya bubar dari meja makan Putri El terus mengikuti pangeran. Putri El terus berbicara banyak hal dan pangeran hanya mendengarkan.

Lea memutuskan untuk pergi ke kamar tamu yang sudah disediakan. Dia berpikir nanti juga pangeran akan mengetuk pintu kamarnya jika akan mengajaknya ke perpustakaan. Belum sampai satu menit Lea menutup pintu kamarnya sudah ada yang mengetuk. Lea berpikir bahwa itu mungkin pangeran.

Lea membuka pintu sambil bergumam, “Mau pergi sekarang?”

“Apanya yang sekarang?”

Bola mata Lea hampir saja keluar. Betapa terkejutnya Lea yang di hadapannya bukan pangeran melainkan Putri El.

“I-it-tuu eee.. bukan apa-apa”

Putri El tidak bertanya lagi namun dia menanyakan hal lain.

“Sudah berapa lama kau kenal dengan pangeran?”

Lea tidak langsung menjawab ia berpikir sejenak.

“Sekitar satu tahun” jawab Lea asal

“Baru satu tahun dan pangeran mengundangmu datang ke makan malam juga membiarkanmu menginap di Istana, sungguh sulit dipercaya”

“Apanya yang sulit di percaya?”

“Pangeran bukan orang yang mudah percaya dengan orang baru apalagi orang sepertimu” Putri El menyunggingkan senyum meremehkan

“Memangnya menurutmu aku orang seperti apa?”

“Kau terlihat bukan gadis yang baik. Saat di meja makan tadi kau sama sekali tidak punya sopan santun. Dan Daby baru saja memberitahuku bahwa pakaian yang kau kenakan ini juga miliknya. Pelayan memperlihatkan dress hitam milikmu yang sangat buruk dan aneh itu. Bagaimana bisa pangeran mempercayai orang sepertimu?”

Lea berusaha menahan amarahnya jika saja dia tahu bahwa baju yang ia kenakan merupakan merk paling mahal di dunianya.

“Kenapa kau tidak tanyakan saja pada pangeran mengapa dia mempercayai orang aneh sepertiku?”

“Yah aku bisa bertan-“ belum sempat Putri El menyelesaikan kalimatnya Lea sudah membalas

“Tapi sepertinya dia tidak tertarik untuk memberitahumu”

“Hei, apa maksudmu berbicara seperti itu? Dia calon suamiku tentu saja dia akan memberitahuku!”

“Benarkah? Sejak tadi ku perhatikan bahkan hanya kau satu-satunya yang peduli soal penikahan kalian”

“Kenapa kau jadi membahas soal pernikahan kami? Dan apa kau bilang hanya aku yang peduli? Maksudmu hanya aku yang ingin menikah tetapi pangeran tidak? Akan ku laporkan pada pangeran apa yang baru saja kamu katakan”

Belum sempat Lea membalas kalimat Putri El, pangeran sudah datang menghampiri mereka.

“Ada apa ini?”

Putri El langsung mengadu kepada pangeran apa yang baru saja Lea katakan kepadanya.

“Sudahlah, sebaiknya kau segera tidur. Lagi pula ini hampir tengah malam untuk apa kau datang ke kamar Lea?”

“Aku hanya ingin tahu dia sebenarnya siapa. Mengapa pangeran bisa sampai mengundangnya ke Istana”

“Aku sudah menjelaskannya, dia hanya temanku. Sekarang pergilah ke kamarmu”

“Baiklah, tapi tunggu dulu”

“Apalagi?”

“Mengapa pangeran datang ke kamar Lea?”

“Aku hendak mengajaknya ke perpustakaan, ada yang harus kami bicarakan”

“Aku ikut”

“Tidak bisa”

“Kenapa tidak? Aku calon istrimu”

“Ini hal penting yang harus di bicarakan berdua, tidakkah kau mengerti?”

“Baiklah, maafkan aku pangeran”

Putri El akhirnya meninggalkan Lea dan pangeran berdua saja. Setelah itu Lea dan pangeran bergegas ke perpustakaan agar bisa menemukan buku Dunia Dalam Cermin itu segera sebelum malam semakin larut.

Lea takjub melihat isi perpustakaan ini rak besar dan tinggi ada di sekeliling ruangan. Ia mulai berpikir bagaimana mungkin menemukan buku tersebut hanya dalam satu malam. Pangeran seperti mengerti apa yang baru saja dipikirkan oleh Lea ia berkata, “tidak perlu khawatir kita tidak akan memeriksa satu persatu isi perpustakaan ini. Ada bagian perpustakaan yang dikategorikan buku-buku penting, kita akan mencarinya di sana”

Mereka bergegas ke bagian perpustakaan yang disebutkan oleh pangeran tadi. Meskipun benar bagian buku-buku penting ini lebih sedikit daripada yang tadi ia lihat saat awal masuk tapi ini tetap saja banyak. Butuh waktu berjam-jam untuk mencarinya.

“Kita mencari secara berpencar. Aku akan mencari di bagian sebelah kanan dan kamu sebelah kiri”

Lea mengangguk setuju.

Sekarang hampir pukul 2 malam dan mereka sama sekali belum menemukan buku tersebut. Mereka berdua berhenti sejenak. Pangeran menatap ke arah Lea dan dibalas dengan gelengan kepala. Ini sudah kesekian kalinya pangeran bertanya namun Lea tetap belum menemukannya.

“Kalau kaya gini lebih baik aku tidak usah pulang saja” gerutu Lea

“Memang kamu akan tinggal di mana jika tidak pulang ke duniamu?”

“Memang di mana lagi? Ya disini”

“Aku tidak bisa terus membiarkanmu tinggal lebih lama”

“Kenapa?”

“Raja pasti akan curiga”

Lea menghela napas pasrah. Kali ini Lea bangkit terlebih dahulu dia berusaha kembali bersemangat mencari ke bagian yang belum sempat ia lihat. Dia melihat satu buku dengan cover berwarna ungu tua. Lea tertarik dengan buku itu dan berusaha meraihnya. Namun karena terlalu tinggi ia harus berjinjit meski sebenarnya ia bisa menggunakan tangga untuk meraihnya. Buku itu hampir ia raih tetapi alih-alih tertangkap oleh tangan buku itu hampir jatuh menimpa kepalanya.

Pangeran sejak tadi memperhatikan Lea. Menurutnya Lea lucu sekali sudah tahu tidak akan sampai tapi masih memaksa untuk berjinjit. Padahal jika Lea meminta bantuan pangeran akan senang hati menolongnya. Namun melihat buku itu akan jatuh menimpa kepalanya pangeran bergegas meraih buku itu. Lea menutup mata dan menghalangi kepalanya dengan tangan karena ia pikir buku itu akan mengenai kepalanya.

Satu detik. Dua detik. Buku itu tak kunjung mengenai kepalanya. Kali ini Lea membuka mata dan mendogak ke atas. Bukan buku yang dia lihat justru muka pangeran yang jaraknya kini begitu dekat dengan dirinya. Tidak mungkin bila Jatung Lea tidak berdebar begitu cepat dengan jarak hanya lima senti tanpa sadar napasnya pun ikut tertahan.

Beberapa detik kemudian Lea tersadar dan menjauhkan tubuhnya dari pangeran. Ia berusaha mengatur napas agar detak jantungnya kembali normal.

“Harusnya dari awal kamu inisiatif membantu. Huh” Lea menggerutu kesal

Pangeran hanya tersenyum mendengarkan kekesalan Lea. Saat Lea tengah meluapkan kekesalannya dia terpaku melihat buku yang dipegang oleh pangeran.

“Hei, kita menemukannya Al!!!” seru Lea dengan semangat

“Al?”

“Iya, lihat buku ditanganmu, DUNIA DALAM CERMIN. KITA BERHASIL!”

Pangeran pun baru sadar bahwa buku yang sejak tadi ia pegang adalah buku yang mereka cari. Tapi fokus pangeran tidak langsung ke buku dia malah kembali bertanya.

“Kamu menyebutku apa tadi?”

“Hah? Menyebutmu apa?”

“Al? Kamu menyebutku Al?”

“I-iya memangnya ada masalah?” tanya Lea dengan ragu

“Semua orang di Istana ini memanggilku pangeran, hanya orang tuaku yang memanggilku begitu. Calon istriku saja memanggilku pangeran”

“Ayolah jangan berlebihan, lagi pula aku tidak datang dari dunia ini jadi tidak wajib mematuhi seluruh aturan yang ada di sini. Kamu juga tahu bahwa aku biasa berbicara santai”

“Baiklah aku izinkan tapi jika dihadapan orang lain jangan menyebut namaku. Orang-orang bisa curiga”

“Baik pangeran” Lea menjawab sambil membungkukkan badannya seperti yang biasa para pelayan lakukan

Pangeran tahu Lea sedang mengejeknya dia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Saat pertama kali Lea datang ke dunia ini dia sudah menganggap bahwa akan ada hal-hal baru yang aneh yang ia temui dari gadis ini. Maka dari itu pangeran mencoba untuk memahami tingkah lakunya. Dia tidak selalu menganggap serius ungkapan tidak sopan Lea. Mungkin jika Lea melakukannya ke orang lain dia akan dianggap sedang menghina keluarga kerajaan.

“Lalu sekarang apa?” tanya Lea

“Ayo kita baca”

Mereka membuka lembar demi lembar buku itu dan membacanya dengan seksama. Keadaan diperpustakaan menjadi hening baik pangeran maupun Lea fokus membaca buku. Entah kenapa tiba-tiba Lea merasakan kepalanya mulai pusing, tulisan-tulisan dalam buku mulai memudar setelah itu semuanya mulai gelap.

“Lea Lea Leaa kamu kenapa? Hei sadarlah” Pangeran panik karena tiba-tiba saja tubuh Lea ambruk ke dalam pangkuannya. Merasa usahanya membangunkan Lea sia-sia pangeran membopong tubuh Lea berniat membawanya ke kamar. Jika memang Lea hanya ketiduran harusnya Lea segera sadar saat pangeran berusaha membangunkannya namun ini berbeda.

***

Kini jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Satu setengah jam berlalu Lea belum juga menunjukkan tanda-tanda ia akan segera sadar. Sejak tadi pangeran duduk di samping ranjang sembari mengenggam erat tangan Lea. Entah ia sadar akan apa yang ia lakukan atau tidak. Pangeran baru saja menemukan fakta mengejutkan dari buku Dunia Dalam Cermin itu. Dia jadi semakin khawatir kalau-kalau Lea justru tidak bangun.

Pangeran mulai merasakan tangan Lea bergerak perlahan. Ia langsung menatap ke arah Lea, mata Lea mulai terbuka sedikit demi sedikit. Kesadarannya mulai kembali.

“Dimana aku? Kenapa kepalaku sakit?”

“Kamu berada di kamar sekarang, tadi kamu tidak sadarkan diri saat diperpustakaan”

“Bukankah tadi kita sedang membaca buku bersama?”

“Apa kepalamu masih sangat sakit?”

“Hanya sedikit”

“Akan ku jelaskan jika kepalamu sudah tidak sakit”

“Eh, menjelaskan apa? Sekarang saja. Ini sudah membaik kok”

“Seperti yang kamu tahu banyak sekali bagian buku yang tulisannya memudar dan sulit di baca. Namun ada satu bagian yang dapat ku baca dengan jelas dan itu bagian terpenting yang menjelaskan kenapa kamu bisa tidak sadarkan diri”

“Apa itu?”

“Buku itu mengatakan bahwa cermin tempat kamu masuk ke dunia ini seperti sekat antara dua dunia. Jadi bagimu duniaku yang berada dalam cermin, begitupun sebaliknya. Sudah jelas bahwa kita hidup dalam dunia yang berbeda Lea. Dan ada aturan dalam dunia ini karena di sini bukan duniamu maka kamu tidak akan bisa hidup di sini dalam kurun waktu yang lama. Dunia ini tidak nyata bagimu, kamu akan mati jika tidak segera kembali dalam jangka waktu tujuh hari”

“Lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini?!”

“Untuk yang itu aku belum menemukan cara pasti bagaimana kamu bisa kembali ke duniamu tapi aku rasa cermin itu permukaannya akan berubah menjadi gelombang air lagi pada hari ke tujuh”

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Ingat saat awal kita bertemu aku bercerita bahwa tepat seminggu yang lalu aku juga melihat permukaan cermin di kamarku berubah menjadi seperti gelombang air jadi aku rasa mungkin lima hari lagi cermin itu akan berubah dan seperti membuka portal menuju duniamu”

“Ahh aku paham”

“Setelah ini aku akan berbicara dengan Raja mencari alasan agar dia bisa memaklumimu untuk tinggal di sini sementara waktu”

***

Selama beberapa hari ini Lea semakin dekat dengan pangeran. Mereka selalu berkeliling istana setiap hari bahkan beberapa waktu lalu pangeran mengajarinya menunggangi kuda.

Sebelumnya pangeran mengajari Lea pendekatan dengan kuda sebelum ia menungganginya. Meski awalnya Lea takut-takut namun semakin lama semakin rileks. Dia membelai surai kuda dengan lembut dan hati-hati.

“Sepertinya kamu sudah siap untuk menunggangi kuda”

“Benarkah?”

“Ayo kita coba. Aku akan memberimu contoh terlebih dahulu bagaimana cara menaiki kuda”

Lea memperhatikan dengan seksama penjelasan pangeran.

“Pertama-tama sejajarkan tubuhmu dengan bahu kuda lalu kau lihat pijakan ini”

Lea membalas dengan anggukan.

“Ini namanya sanggurdi, pijakan kaki kirimu di sini kemudian pegang pelana. Ingat, tumpuannya ada pada lutut dan betis lalu dorong dirimu ke atas dan langkahi pelananya”

Pangeran kini berada di atas kuda, “Bisa kamu pahami?”

Lea mengangguk dengan semangat.

“Aku mau mencobanya”

Pangeran turun dari atas kuda dan membiarkan Lea mencobanya. Butuh setengah jam bagi Lea untuk berhasil naik ke atas kuda. Saat berada di atas kuda ekspresi Lea berubah tegang karena ternyata di atas sini cukup tinggi dan dia takut jikalau jatuh.

“Jangan panik Lea, kudanya bisa merasakan apa yang kamu rasakan”

“T-ta-ppi di sini sangat menakutkan!”

Kuda yang ditunggangi oleh Lea bergerak mulai tidak nyaman. Lea yang berada di atasnya pun semakin panik. Pangeran di bawah sana terus meyakinkan Lea bahwa jika dia rileks kudanya pun akan ikut rileks. Tapi Lea tidak terlalu mendengarkan karena sudah begitu panik. Kuda yang ditungganginya pun semakin lepas kendali hingga akhirnya Lea terlempar dari atas kuda.

“AAAAA” jerit Lea

Untung saja dengan sigap pangeran langsung menangkap tubuh Lea agar tidak terbentur ke tanah. Kuda yang Lea tunggangi sudah berlari ke sana kemari tapi segera ditenangkan oleh penjaga istana yang bertugas di kandang kuda ini.

Lea masih terus memeluk pangeran dengan erat dia sangat ketakutan bahkan tanpa sadar air matanya mulai mengalir. Pangeran yang melihat itu berusaha menenangkan Lea.

“Tidak apa apa Lea kamu sudah aman sekarang”

Lea tetap memejamkan matanya erat-erat dan malah mengeratkan pelukannya pada pangeran. Pangeran tidak protes meski harus menggendong tubuh Lea dalam jangka waktu yang lumayan lama. Dia membiarkan Lea kembali tenang dengan sendirinya.

Sepuluh menit berlalu Lea baru mau membuka matanya dan meminta pangeran menurunkannya.

“Maaf kalau reaksiku terlalu berlebihan”

“Itu hal yang wajar lagipula untuk pemula sepertimu kamu cepat belajar cara menjinakan kuda dan menaikinya”

“Benarkah?” Lea dengan cepat melupakan rasa takutnya dan bersemangat kembali mendengar ucapan pangeran. Pangeran yang menyadari hal tersebut ikut tersenyum dan mengusap puncak kepala Lea.

“Tentu saja, kamu sangat berbakat kalau saja kamu bisa tinggal di sini lebih lama aku akan mengajarimu setiap hari”

Wajah Lea tersipu malu, pipinya sedikit memerah akibat pujian serta usapan pangeran di puncak kepalanya.

“Ada apa dengan wajahmu?”

“Tidak apa-apa, i-ini hanya karena sinar matahari begitu terik mukaku jadi kepanasan. Apa tadi katamu, akan mengajariku setiap hari? Aku bisa kembali lagi ke dunia ini nanti berjanjilah kamu akan mengajariku”

“Aku berjanji”

Lea merasa kedekatannya dengan pangeran sudah bukan lagi sebatas teman. Dia merasa nyaman jika bersama pangeran. Pangeran selalu memujinya, membuatnya tertawa, bahkan pangeran selalu tersenyum setiap kali bersamanya dia merasa perlakukaan pangeran justru lebih baik kepadanya ketimbang pada Putri El.

***

Lea tengah duduk di tepi danau yang beberapa hari lalu ia kunjungi. Pangeran menyuruhnya menunggu di sana. Seperti perkataan terakhir pangeran sekitar dua hari lalu bahwa ia akan mencoba berbicara dengan Raja.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya pangeran yang tiba-tiba muncul duduk di sebelahnya

“Tidak begitu baik, dadaku terus menerus sesak”

“Tinggal dua hari lagi, bersabarlah”

“Jadi apa pendapat Raja?”

“Dia mengizinkanmu tinggal beberapa hari lagi bahkan lebih lama pun tidak masalah”

“Memangnya kamu bilang apa?”

“Aku bilang ibumu sakit keras dan kamu harus mencari obatnya di seluruh penjuru dunia maka dari itu selama bertahun-tahun kamu berkelana kesana kemari namun belum kunjung menemukan obat tersebut”

“Hei mengapa kamu memakai alasan seperti itu?”

“Memangnya kenapa?”

“Apakah aku terlihat seperti gadis yang suka berkelana?”

“Sejujurnya, tidak”

“Lalu bagaimana Raja memercayainya?”

“Entah, mungkin karena aku berbicara dengan serius. Waktumu tinggal dua hari lagi di sini apakah kamu tidak mau berjalan-jalan keluar istana?”

“Boleh?”

“Tentu saja, ayo kita keluar”

Setelah berhari-hari mengdekap di dalam istana akhirnya Lea melihat luar istana yang dipenuhi penduduk desa. Pemandangan di luar istana tidak kalah menakjubkan dengan yang ada di dalam. Banyak sekali penduduk yang berjualan dari mulai pernah pernik, bunga, makanan dan lain sebagainya. Bahkan ada sekelompok orang yang memainkan alat musik mungkin di dunia Lea itu seperti live music.

Tanpa menunggu pangeran Lea sudah lari menghampiri penduduk yang menjual pernak pernik. Dia tertarik dengan salah satu liontin berbentuk dua angsa yang saling menyatukan dua kepalanya.

“Halo Nona, apakah anda mau membelinya?”

Ekspresi Lea langsung berubah tersadar bahwa dia tidak memiliki uang. Dengan lesu dia menggeleng ke arah si pedagang kemudian Lea berlalu begitu saja ke tempat lain.

Sepeninggalan Lea pangeran tidak langsung mengikutinya ke tempat lain tetapi justru malah berbicara dengan pedagang pernak pernik tadi. Dia berencana memberikan kejutan pada Lea. Dia tidak bisa menahan senyum di wajahnya membayangkan reaksi Lea yang pasti heboh jika tahu dia membeli liontin ini untuknya.

“Bisakah aku membeli ini?”

“Oh pangeran, tentu saja Anda tidak perlu membayarnya”

“Aku akan membayarnya, tolong bungkus dengan bagus”

“Tentu aku akan membungkusnya dengan baik. Kau pasti akan menghadiahkan ini untuk calon istrimu bukan?”

Senyum di wajah pangeran seketika sirna. Selama beberapa hari bersama Lea sangat membuatnya bahagia sampai membuat ia lupa bahwa dia sudah memiliki tunangan.

“Bukan, hadiah ini untuk temanku”

“Teman? Apakah dia begitu spesial sehingga kau menghadiahkannya sebuah liontin yang bermakna kesetiaan ini?”

“Ya dia sangat spesial”

Pedagang hanya mangut-mangut tanda mengerti dia tidak mau bertanya hal macam-macam takut membuat pangeran tersinggung dengan ucapannya. Pangeran pun segera membayar liontin itu dan lanjut berjalan mencari keberadaan Lea.

Tak terasa berjam-jam mengelilingi daerah sekitar istana kini hari mulai gelap. Pangeran dan Lea tidak kembali ke istana mereka masih melanjutkan perjalan. Dan di sinilah mereka sekarang di tengah danau dengan perahu kecil yang di ujungnya hanya di hiasi satu lentera.

“Di sini sangat gelap, apakah tidak sebaiknya kita pulang saja?”

“Sebentar lagi akan ada hal yang menakjubkan”

Mereka menunggu sekitar lima menit dan seperti yang diucapkan pangeran hal menakjubkan itu mulai menampakkan wujudnya satu persatu. Lampion mulai berterbangan dari arah pemukiman. Lea melihatnya dengan takjub tak pernah ia bayangkan bahwa terjebak di dunia ini justru menjadi hal yang menyenangkan baginya.

“Mengapa orang-orang menerbangkan lampion?”

“Karena hari ini ulang tahun anak pertama Raja”

“Kamu?”

Pangeran membalas pertanyaan Lea dengan senyuman ia selalu menyukai ekspresi Lea yang terkejut, antusias dan bersemangat seperti itu. Ekspresi yang tidak ia temui pada gadis lain di dunia ini. Semua gadis di dunia ini tentu saja tidak bisa seperti Lea mereka dituntut untuk tetap anggun, menjaga sikap, tidak berlebihan saat mengekspresikan sesuatu. Dan justru perbedaan itu yang membuat pangeran tertarik padanya.

“Aku tidak menyiapkan apa-apa, kenapa tidak memberitahuku?”

“Memang kamu punya uang untuk membelikanku sesuatu?”

“Ya setidaknya aku bisa mencari sesuatu yang tidak perlu di beli”

“Apa?”

“Yasudahlah, karena sudah terlanjur aku akan menggantinya dengan sebuah lagu”

Lea berdeham bersiap untuk menyanyikan lagu Dimas Titis yang berjudul Happy Birthday To You.

Happy birthday to the sweetest man
To the warmest herat
It’s you

Yes it’s your day
When miracle meets grace you are always embrace
It’s true

Baru beberapa bait saja pangeran sudah terpukau dengan suara indah Lea dia tidak menyangka gadis ini memiliki suara yang begitu merdu. Pangeran memandangi wajah Lea yang penuh penghayatan dalam menyanyikan lagu untuknya.

I wish you perfect done for everything
A joyful year and blessed
To make your gladness less
You’re always be your best
Happy birthday to you

Lea terus meneruskan nyanyiannya hingga selesai tanpa menyadari bahwa pangeran tengah memperhatikannya karena Lea memejamkan matanya sepanjang bernyanyi. Dan saat Lea menyanyikan lirik terakhir sambil membuka mata tak sengaja mata keduanya saling bertemu namun tak lama keduanya saling memalingkan pandangan. Sadar bahwa suasana mulai sedikit canggung pangeran akhirnya memutuskan untuk membuka suara lebih dahulu.

“Terima kasih untuk lagunya, meski aku tidak begitu tahu lagu yang kamu nyanyikan itu tapi tetap kuucapkan terima kasih karena telah menyanyikannya dengan sangat merdu. Apakah kamu berbakat dalam bernyanyi?”

“Sama-sama. Aku tidak terlalu suka bernyanyi”

“Kenapa? Suaramu sangat merdu”

“Benarkah? Aku hanya tidak yakin orang-orang akan menyukai suaraku tapi mendengar pujianmu mungkin aku akan memikirkannya lagi”

“Lea, ada yang ingin kuberikan padamu”

“Apa?”

Pangeran mengeluarkan kotak hitam berbentuk lingkaran yang dibalut dengan pita berwarna putih. Ia menyodorkan kotak itu kepada Lea.

“Apa ini?”

“Buka saja”

Lea tidak menyangka bahwa pangeran diam-diam membelikannya liontin yang tadi ia mau.

“Kapan kamu membelinya?”

“Aku berikan itu sebagai oleh-oleh”

Lea tersenyum senang. Ia langsung memakai liontin itu di lehernya.

“Bagaimana? Apakah ini cocok denganku?”

“Cantik” ucap pangeran tanpa sadar

“Hah apa tadi kamu bilang?”

“Eh maksudku cocok sekali”

Lea bertambah senang karena di puji begitu. Ia terus memandangi liontin angsa itu tanpa henti.

“Lea, bisakah kita bertemu lagi setelah ini?”

“Kenapa tidak bisa?”

“Eh memangnya kamu mau kembali lagi kesini?”

“Kamu tidak mau mencoba mengunjungi duniaku?”

“Aku rasa itu tidak mungkin. Jangankan menghilang seminggu sepertimu beberapa jam saja aku menghilang seisi istana akan langsung menyebar selembaran orang hilang”

“Kalau begitu aku saja yang ke sini lagi”

“Memangnya kamu mau?”

“Mau. Kalau aku bisa tinggal di sini sekalian aku akan lebih senang”

“Aku akan menunggumu”

Lea menganggukkan kepala sebagai balasan. Tiba-tiba terbesit pertanyaan yang selalu ingin Lea tanyakan sejak awal ia berada di sini.

“Al, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentang apa?”

“Apakah kamu akan menikah dengan Putri El?”

“Iya, bukankah kamu juga sudah tahu saat makan malam waktu itu?”

“Aku tahu tapi maksudku apakah kamu sendiri ingin menikahinya?”

“Mengapa kamu bertanya seperti itu?”

“Beberapa waktu lalu aku sering memperhatikan tindakanmu pada Putri El. Kamu sepertinya selalu mengabaikan apa yang dia katakan. Kamu juga tidak terlihat antusias dalam menyiapkan pernikahan kalian. Apakah kamu benar ingin menikahinya?”

“Kalau pun aku tidak ingin menikahinya aku harus tetap menikahinya. Orang tuaku pasti memberiku yang terbaik”

“Kamu percaya kalimat bahwa orang tua akan memberikan yang terbaik untuk anaknya?”

“Memangnya kamu tidak?”

“Entahlah, aku hanya merasa meskipun mereka tahu yang terbaik untukku aku tetap memiliki hak untuk menentukan jalan hidupku”

“Kamu benar tapi aku tidak bisa begitu. Di dunia ini ada aturan aku tidak bisa menentang Raja”

“Kenapa tidak? Hidupmu seharusnya milikmu bukan milik kedua orang tuamu atau siapa pun itu”

“Kamu sangat berani ya. Andai aku bisa sepertimu”

“Yah aku hanya tidak setuju saja kalau kamu menikahi Putri El karena terpaksa”

“Kenapa tidak setuju?”

“Memang kamu tidak kasihan pada Putri El jika tahu bahwa kamu hanya menikahinya karena terpaksa?”

“Itu sudah resiko lagi pula Putri El pasti sadar akan hal itu Lea. Di dunia ini banyak sekali yang seperti kami jadi itu sudah hal yang biasa”

“Kamu akan tetap menikahinya meski tidak mencintainya?”

Pangeran tidak menjawab dia malah mengalihkan pembicaraan.

“Malam sepertinya sudah semakin larut kita harus bergegas pulang sebelum semakin gelap”

***

Sehari sebelum Lea pergi pangeran sempat mengobrol banyak dengannya menanyakan jauh lebih dalam kehidupan sehari-hari Lea di dunianya.

“Jadi kamu masih bersekolah?”

“Bukan sekolah, tapi universitas”

“Apa itu universitas?”

“Jenjang yang lebih tinggi daripada sekolah”

“Oh begitu. Selain itu di duniamu apa yang biasanya orang seusia kita lakukan?”

“Ada yang bekerja dan ada pula yang sudah menikah”

“Kamu sendiri sudah menikah?”

“Tentu saja belum”

“Tapi kalau laki-laki yang kamu sukai ada?”

“Tadinya sebelum datang ke dunia ini tidak ada tapi setelah datang ke sini ada satu laki-laki yang menarik perhatianku”

“Siapa? Pengawal Istana?”

“Hei tentu saja bukan! Kenapa harus pengawal istana sih”

“Ha ha ha lagi pula pengawal istana di sini cukup tampan”

“Tidak, tidak. Pria ini lebih tampan dia sangat menarik perhatianku saat kita jalan-jalan di luar istana”

“Oh aku tahu, jangan jangan pedagang buah yang kamu bilang wajahnya mirip artis di duniamu itu”

“Ihh bukan, kamu tidak akan tahu”

“Kalau begitu beritahu aku”

“Boleh saja tapi nanti”

“Kapan?”

“Besok”

Setelah berbincang tentang Lea mereka mengganti topik pembicaraan.

“Bagaimana jika portal itu tidak muncul? Apakah aku akan mati di sini?”

“Portal itu pasti muncul”

“Bagaimana jika tidak?”

“Sudahlah jangan berpikiran buruk. Lebih baik sekarang kamu tidur”

Lea mencoba membuang pikiran buruknya. Meskipun tinggal di sini menyenangkan tetapi tetap saja rasa sesak di dadanya setiap hari kian bertambah rasa-rasanya oksigen di sini seperti semakin menipis membuatnya tidak bisa bernafas begitu lama.

***

Tepat seperti dugaan pangeran cermin itu membuka portal antar dunia lagi.

“Cepat pergilah”

“Tidak akan ada salam perpisahan huh?”

“Mukamu sudah pucat masih ingin salam perpisahan?”

“Iya iyaa aku masuk sekarang”

Lea mulai memasukkan tangannya terlebih dahulu seperti seminggu yang lalu ia lakukan. Tubuh Lea perlahan juga mulai ikut masuk hingga sepenuhnya tubuhnya hilang. Pangeran kira semuanya sudah selesai tapi ternyata Lea memunculkan kepalanya kembali.

“Aku lupa memberitahumu satu hal”

“Apa?”

“Laki-laki yang menarik perhatianku,” Lea mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya, “orang itu kamu”

“Sampai bertemu satu minggu lagi pangeran”

Lea tidak menunggu reaksi pangeran ia langsung menarik kembali dirinya lenyap dari portal itu. Pangeran tersenyum menanggapi kalimat Lea barusan dia juga sudah menduganya.

“Aku akan menunggumu kembali Lea”

Setelah seminggu menghilang dan muncul secara tiba-tiba tentu saja membuat seisi rumah gempar dengan kedatangan Lea. Mama yang selama seminggu terus menangis karena takut putri sematawayangnya tidak kembali lagi ke rumah.

“MAMA! PAPA!” Lea berseru senang

“Leaaa” Mama menghamburkan pelukannya pada Lea rasanya sangat campur aduk setelah berhari-hari ia pergi.

Lea membalas pelukan Mama nya. Setelah berjam-jam dalam dekapan Mama Lea kini melihat ke arah Papa. Dia pikir reaksi Papa akan seperti Mama namun Papa justru menunjukkan amarah dari sorot matanya.

“Setelah merusak makan malam lalu pergi meninggalkan rumah berhari-hari kamu pikir itu sikap yang baik hah?!”

“Pa, Lea bisa jelasin”

“Kamu pikir dengan cara memberontak seperti itu kami akan menuruti kemauanmu?”

“Apanya yang memberontak?”

“Kamu kabur dari rumah berhari-hari lalu apa namanya kalau bukan memberontak?”

“Aku ga memberontak Pa. Aku bisa jelasin semuanya”

“Pa, dengerin dulu penjelasan Lea” ucap Mama berusaha menengahi

“Kamu urus saja anakmu itu, saya sudah tidak tahan” ucap Papa sambil berlalu begitu saja meninggalkan Lea dan Mama.

“Tidak perlu terlalu di dengarkan ucapan Papamu tadi. Kamu tahu kan Papamu kesal sekali saat makan malam itu ditambah kamu yang tiba-tiba menghilang dia pasti sama khawatirnya dengan Mama”

“Khawatir? Sepertinya Papa lebih mengkhawatirkan citranya di hadapan keluarga Myles daripada mengkhawatirkan aku”

“Tidak mungkin begitu Lea”

“Dari Lea kecil sampai sekarang selalu hanya Mama yang khawatirin Lea. Papa mana ada waktu untuk itu, iya kan?”

“Lee jangan ngomong begitu”

“Lea mau ke kamar aja”

“Tunggu dulu, kamu belum ngasih penjelasan ke Mama kemana aja kamu selama seminggu ini?”

Akhirnya Lea mengarang cerita bahwa dia menginap di rumah temannya yang Mama dan Papa tidak pernah kenal maka dari itu saat mereka mengontak semua teman-temannya tidak ada satu pun dari mereka tahu keberadaan Lea.

***

Satu minggu berlalu Lea kembali lagi masuk ke Dunia Dalam Cermin ini untuk menepati ucapannya pada pangeran. Ketika masuk dia menduga kamar itu akan kosong saat seperti pertama kali dia datang atau mungkin ada pangeran di sana yang sedang melakukan sesuatu di kamarnya. Tapi kedua dugaan itu salah. Alih-alih pangeran justru Putri El yang berada di sana entah apa yang sedang ia lakukan tapi Putri El berdiri di depan cermin dengan dress putih, mahkota yang mewah dan wedding veil di belakang kepalanya.

“AAAAA”

Lea menutup telinganya karena mendengar jeritan Putri El.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu? Bagaimana bisa kamu keluar dari cermin huh?”

“Bukan urusanmu, aku datang mencari pangeran. Dimana dia?”

“Apakah kamu tidak bisa melihat?”

“Apa?”

Putri El memperlihatkan jari-jari tangan kanannya dia bermaksud menunjukkan cincin di jari manisnya.

“Kami sudah resmi menikah. Aku dan Pangeran Al sudah menjadi pasangan”

“Tidak mungkin, memangnya dia mencintaimu?”

“Tentu saja dia mencintaiku kalau tidak mana mungkin dia buru-buru melangsungkan pernikahan kami”

Pintu kamar terbuka memperlihatkan pangeran tengah berdiri dengan baju khas pengantin pria Istana dan warnanya senada dengan gaun yang dikenakan Putri El.

“Ada apa ini? Bukankah kamu berjanji menungguku datang ke sini lagi?”

Bukannya menjawab pertanyaan Lea pangeran justru membalasnya dengan pertanyaan lagi, “Apa yang kamu lakukan di sini Lea?”

“Kamu lupa? Aku sudah berjanji akan menemuimu seminggu lagi”

“El bisakah kamu membiarkan kami berbicara berdua saja?”

Meski sebenarnya enggan tetapi Putri El akhirnya memilih meninggalkan kamar pangeran. Lagi pula dia tidak perlu khawatir karena pangeran kini sudah resmi menjadi suaminya.

“Kamu bilang kamu tidak mencintainya lalu mengapa menikah dengannya?”

“Lea sudah aku bilang bahwa di duniaku ada aturan”

“Tapi kamu bisa menolaknya. Kamu bisa mencari gadis lain atau menikah denganku saja!”

“Tidak bisa denganmu Lea”

“Kenapa tidak? Aku menyukaimu, kamu menyukaiku kita bisa melanjutkan hubungan ini sampai akhirnya saling mencintai”

“Kita tetap tidak bisa karena bukan itu permasalahannya”

“Lalu apa masalahnya?”

“Kita tidak hidup di dunia yang sama maka mustahil juga kita bisa menikah. Jika kita menikah memangnya kita akan tinggal di mana? Tidak mungkin aku ikut ke duniamu begitupun sebaliknya”

“Aku bisa ikut bersamamu sebagai seorang istri di duniaku mereka harus patuh terhadap perintah suami dan ikut dengannya. Jadi aku bisa ikut denganmu jika memang kita menikah”

“Itu yang menjadi masalahnya. Aku sudah membaca seluruh isi buku Dunia Dalam Cermin. Buku itu mengatakan bahwa di duniaku kamu tidak nyata, begitupun sebaliknya karena hal tersebut juga jika kamu menjalin ikatan resmi pernikahan denganku maka kamu menjadi nyata dan duniamu hancur. Seluruh duniamu akan lenyap seketika bahkan orang tuamu akan ikut menghilang. Dan sebaliknya aku juga tidak bisa membiarkan dunia ini hancur hanya untuk tetap tinggal bersamamu itu sebabnya aku memutuskan untuk menikahi Putri El. Jujur saja aku memang menyukaimu tapi untukku kamu tidaklah nyata”

“Aku bisa meninggalkan duniaku dan hidup bersamamu!” Lea menjawab tanpa keraguan.

“Apa kamu yakin?”

“Sangat yakin!”

“Kamu tidak keberatan jika harus kehilangan orang tuamu”

“Itu bukan masalah besar”

Pangeran terkejut dengan jawaban yang Lea berikan. Dia pikir Lea hanya jawab asal tanpa memikirkannya tapi setelah mendengar penjelasan Lea dia mengerti Lea rela mengobarkan orang tuanya.

“Aku tetap tidak bisa menikahimu Lea”

“Kenapa tidak bisa? Aku sudah memilih untuk ikut denganmu”

“Pertama, aku baru saja menikah dengan Putri El tidak mungkin aku meninggalkannya. Kedua, kamu memang gadis yang menarik sekali bagiku tidak ada perempuan di dunia ini yang pernah berhasil menarik perhatianku tetapi setelah mendengar jawabanmu tadi aku semakin yakin bahwa kita tidak bisa bersama. Aku tidak bisa mencintai gadis yang tidak mencintai kedua orang tuanya”

Lea tersadar setelah mendengar ucapan terakhir pangeran. Dia langsung merenungi hal tersebut. Apa yang sudah dia lakukan? Bisa-bisanya dia berpikir rela mengobarkan orang tuanya.

“Lalu sekarang apa?” ucap Lea tidak bersemangat. Kini dadanya begitu sesak padahal tujuan awal dia datang kemari adalah menghabisi hari-hari seperti hari kemarin ia terjebak di sini bersama pangeran.

“Pulanglah Lea, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Aku sekarang sudah memiliki istri”

“Tapi kamu tidak mencintainya!”

“Cukup Lea. Aku hanya belum mencintainya bukan tidak. Berhentilah menyamakan duniaku dengan duniamu. Aku sudah bilang di sini ada aturan. Aku harus menikah berdasarkan perjodohan dan itu yang terbaik,”

“Jadi sekarang aku mohon pulanglah, kamu tidak boleh terjebak lagi di sini”

Dengan berat hati Lea membalikkan tubuhnya dan beranjak masuk ke dalam cermin. Ia pulang dengan perasaan yang begitu sakit. Yang tadinya ia pikir jalannya akan begitu mulus ternyata justru malah semakin rumit.

Pangeran terus menatap cermin di depannya meski dengan perasaan yang sama sakitnya dengan Lea dia harus berpikir logis. Dengan cepat ia mengambil benda berat apa saja yang ada di kamarnya lalu ia lemparkan ke cermin. Tujuannya berhasil ia memang ingin membuat cermin itu pecah dan seketika portal menghilang.

Sementara itu Lea yang berada di balik cermin terkejut mendengar suara berdentum kencang.

“BUMMM!”

Portal itu tertutup tapi suara portal tertutup itu tidak seperti kemarin. Hingga seminggu berikutnya datang portal itu tidak muncul kembali dan kini Lea tahu bahwa kemungkinan pangeran yang menghilangkannya dengan suara berdentum kemarin.

Setahun berlalu Lea kini tengah duduk di meja dengan laptop dihadapannya. Dia baru saja menyelesaikan satu buah cerita berjudul World In The Mirror. Dua bulan lalu Lea memutuskan untuk rutin menulis di akun blognya hingga akhirnya hari ini ia berhasil menuntaskan cerita pertamanya.

Pembacanya mungkin berpikir tulisannya ini hanya fiksi belaka namun siapa sangka seluruh kejadian diambilnya dari kisah nyata.

Komentar

Postingan Populer