Cerpen by Ami Nurul Islamiyah
HAPPY WITH YOU
By Ami Nurul Islamiyah
2130911005
Hari ini aku bangun di pagi hari seperti biasanya. Aku begitu menantikan hari besar yang akan segera menghampiriku. Hari besar itu bukanlah hari ini namun banyak yang harus dipersiapkan. Aku bangun dari tempat tidurku dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap.
Drakkkk…
Aku sepertinya terlalu bersemangat sampai tidak memperhatikan sekitar. Sehingga kejadian selanjutnya mudah sekali di tebak-ya, aku terpeleset. Untungnya hanya benturan kecil. Aku sedang bersiap-siap karena memiliki kelas pagi ketika bunda ku memanggil.
“Alina mau bawa makan gak?” tanya Bundaku.
“Aku mau bawa nasinya aja bun, aku beli lauknya nanti di kampus aku agak buru-buru hari ini,” jawabku.
Lalu aku pergi mengambil nasi dalam kotak makan. Setelah itu, aku langsung pamit. Aku pergi cukup terburu-buru walaupun sebenarnya aku tidak terlambat tapi aku ingin memiliki waktu beristirahat di kelas sebelum di mulai.
*****
“Selamat pagi semuanya,” ujar Pak Raynald yang menyapa mahasiswa-mahasiswanya dengan ceria.
“Selamat pagi Pak,” jawab para mahasiswa.
Kelas pagi dari mata kuliah Kewirausahaan berjalan serius dan lancar dengan begitu banyak diskusi hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 8.40 yang menandakan kelas telah berakhir.
“Baik anak-anak, mungkin itu saja untuk hari ini. Kita lanjutkan materi selanjutnya minggu depan oleh kelompok 5 dan 6 ya. Kalo begitu saya pergi ya,” ucap Pak Raynald begitu kelas berakhir.
“Baik, Pak. Terima kasih,” jawab para mahasiswanya.
Setelah Pak Raynald keluar dari kelas, Fanny sahabatku segera menghampiriku
“Lin, kita sarapan dulu yuk sambil nunggu waktu rapat acara gebyar FYD besok,” ajak Fanny.
“Ayo, gue juga belum sarapan nih. Tapi gue bawa nasinya tinggal beli lauknya aja,” jawabku.
*****
Kami menikmati sarapan kami dengan lahap, setelahnya kami bergegas menuju auditorium tempat dimana acara diselenggarakan. Aku menjabat sebagai koordinator guest star yang akan hadir untuk acara besok. Hari ini merupakan hari gladi resik untuk semua yang akan tampil termasuk guest star karena acaraku ini salah satu acara terbesar dan cukup diminati begitu banyak orang hingga dihadiri oleh bapak gubernur.
Aku begitu antusias dengan salah satu guest star yang akan tampil. Gitaris dari band TRACE adalah orang yang sangat aku sukai di bangku menengah atas dulu. Tak pernah ku sangka kini dia ada di kampus yang sama denganku. Dia memang begitu handal dalam bermain gitar, dia juga memiliki suara yang bagus saat bernyanyi, dan seingatku dia merupakan orang yang aktif dalam berorganisasi makanya sudah tak aneh jika dia dikenal semua guru. Tak hanya itu, dia juga cukup populer kurasa sudah sewajarnya banyak yang menyukainya. Bagaimana tidak seorang laki-laki bertubuh tinggi, berparas tampan, dan memiliki bahu yang lebar tentu saja para wanita akan menggilainya, termasuk aku. Tapi sepertinya dia tak akan mengenaliku karena banyak wanita yang mendekatinya kala itu.
Hingga kini aku masih terheran mengapa bisa aku tidak tahu bahwa kita berada di kampus yang sama, bahkan aku kini di semester 3 dan dia semester 5. Aku sempat kehilangan fokus saat memikirkannya hingga aku tersadar dia sedang menghampiriku dan bertanya padaku.
“Halo kak, selamat siang. Kak Alina ya? Perkenalkan saya Zalka ketua band TRACE dan ini anggota band kami. Mohon kerja samanya ya kak untuk kegiatan ini,” ucapnya, seperti dugaanku dia tak mengenaliku.
“Ah maaf, selamat siang kak Zalka. Iya benar kak, izinkan saya memperkenalkan diri lagi ya kak. Saya Alina Adinda Kirana selaku koordinator guest star gebyar FYD ini. Salam kenal untuk semuanya. Mari saya antar menuju waiting room,” ujarku dengan hati yang menahan rasa gemetar.
Dengan hati yang begitu tak karuan aku mengantarnya ke ruang tunggu lalu kembali mengecek kehadiran para guest star lainnya dengan harapan semua hadir tepat seperti apa yang telah disampaikan.
*****
Gladi resik pun kini telah usai diakhiri oleh penampilan dari TRACE. Saat turun dari panggung dia datang menghampiriku sementara teman-temannya kembali ke ruang tunggu, akupun melihat ke arahnya.
“Kalo gak salah kita satu sekolah ya waktu SMA? Kamu yang sempat ikut perlombaan KSM itukan?” tanya Zalka.
Aku begitu terkejut dan tak bisa menyembunyikan rasa terkejut itu karena dia ternyata mengenalku
“Ah iya kak benar. Aku agak kaget kakak tau tentang aku.”
“Emm aku sebenernya lumayan tau banyak tentang kamu tapi kamu gak sadar. Aku pergi ya, nanti kita ngobrol lagi,” lanjutnya sambil pergi dengan senyuman.
“Ya Tuhan ada apa dengan hari ini, banyak hal tidak biasa yang terjadi. Bahkan orang yang aku suka kenal sama aku. Sungguh hari yang membuat jantung tak sehat,” ucap ku dalam hati yang serasa terkena guncangan.
*****
Pukul 4 pagi aku bangun, merapihkan tempat tidur, dan segera bergegas mandi lalu shalat subuh. Tak lupa, aku menyiapkan bekal untuk hari besar yang begitu aku nantikan dan pergi menuju kampusku pada pukul 5 pagi disaat langit masi begitu gelap namun aku begitu ceria.
Hari ini aku cukup sibuk kesana kemari dan tidak bisa banyak berinteraksi dengan nya. Sungguh sangat disayangkan bahwa hari yang ditunggu-tunggu malah menjadi hari yang hanya sedikit interaksi.
Seperti saat gladi resik kemarin TRACE tampil sebagai guest star penutup acara dan mereka menampilkan penampilan yang begitu luar biasa dan menarik minat serta antusias dari penonton yang hadir hari ini. Tentu saja kami panitia begitu senang karena acaranya berjalan dengan lancar tanpa ada masalah yang rumit, hanya ada sedikit masalah kecil yang pasti selalu ada dalam sebuah kegiatan.
Kini tiba saat dimana dia dan teman-temannya harus pergi. Mereka berpamitan dengan yang lain dan pastinya juga denganku. Dia pun menghampiriku mungkin untuk berpamitan tapi ternyata dia mengatakan hal lain
“Good job Lin, kita puas sama acara hari ini. Nanti kapan-kapan kita makan bareng ya. Aku pamit dulu, byee sampai ketemu nanti,” ucap laki-laki yang berbadan tinggi dengan suara bass nya.
“Iya kak. Hati-hati yaa,” balasku sambil tersenyum dan dia pergi sambil melambaikan tangannya.
Entah mengapa aku menjadi begitu senang
“Ahhhhh sial aku mulai kehilangan fokus lagi gara-gara kesenengan, satu kalimat dia ngajak aku makan padahal itu bisa aja basa basi. Buktinya kita satu kampuspun dalam satu tahun baru ketemu hari ini yaa ayo Lin sadar jangan terlalu berharap,” ucapku dalam hati sambil berjalan menuju back stage.
*****
Hari demi hari aku kembali menjalani hari-hariku seperti biasanya yaitu kuliah dari pagi hingga sore dan tak lupa aku juga dihujani oleh tugas yang kayaknya gak bisa jauh dari aku. Dan yaaa untung saja hari itu aku sadar dengan cepat agar tidak hanyut dengan ucapan pria itu. Karena sudah 1 bulan sejak acara itu memang kami mulai saling bertukar pesan, tapi ya gak begitu sering tapi cukup untuk menyenangkan hati dan bodohnya aku masih saja mengingatnya. Dan baru aku sadari aku tidak tahu dia dari jurusan apa, tapi aku terlalu malu untuk bertanya.
Hari ini aku sedang tidak ada kelas karena dosen yang mengajar sedang ada dinas di luar negeri dan kami pada akhirnya diberi sebuah tugas yang terdiri dari sebuah keluarga besar. Yaa benar, keluarga besar dipimpin oleh satu paragraf perintah yang memiliki anak hingga cucu. Saat aku menunggu Fanny di taman dekat kantin, tiba-tiba ada seorang wanita yang tidak aku kenal dan menghampiriku dengan berkata
“Kamu Alina dari jurusan Sastra Inggris semester 3 kan?” tanya seorang wanita yang tampak seperti kaka tingkat dari jurusan lain.
“Iya aku Alina, ada apa ya?” jawabku dengan penuh kebingungan.
“Oh syukurlah aku gak salah. Kenalin aku Nancy dari jurusan Manajemen Bisnis lagi-lagi teman satu kelasnya Zalka sekaligus salah satu vokalis TRACE. Aku bener-bener penasaran denganmu soalnya zalka terus terusan bahas tentang kamu sejak bandnya tampil di gebyar, sayangnya aku gak ikut tampil, tapi kata mereka gebyarnya sangat asik dan leader kita terus ngomongin koordinator para guest star,” ucap Nancy dengan sedikit tawa.
“Tapi sekarang aku faham, pantes aja dia terus bahas Alina Alina Alina terus, dia tahu aja mana cewe cantik. Dasar laki-laki. Oh iya mungkin kamu gak inget aku kan? Kita juga satu SMA dulu aku sekelas sama Zalka,” sambungnya.
Wanita itu membuat aku bertanya-tanya dan dia bicara dengan begitu panjang lebar yang tidak memberi kesempatan aku berbicara. Dan tiada hentinya seolah menyombongkan diri dia yang begitu kenal dengan Zalka.
“Ah iya, halo kak. Maaf aku gak ngenalin kak. Tapi sebelumnya, ada keperluan apa ya kak, kakak nyari aku?” jawabku yang masih kebingungan dengan kehadirannya yang begitu mendadak.
“Gak ada apa-apa sih aku cuman penasaran aja sama kamu Lin. Dan kebetulan aku lewat terus liat kamu, kalau gitu aku pamit dulu yaa aku ada jadwal perform di café belakang kampus kalo kamu senggang boleh kesana aja ya ada Zalka juga,” tambahnya sambil tersenyum dan bergegas pergi.
Dia pergi begitu cepat hingga aku tak sempat menjawabnya. Lalu aku teringat bahwa disana aku sedang menunggu sahabatku.
“Oh iya Fanny dimana sih lama banget.”
“Dan apa alasan kak Nancy ketemu aku ya? Apa iya kak Zalka ngomongin aku? Tapiii ahh sudahlah. Tapi aku penasaran dan pengen lihat kak Zalka, tapi sayangnya aku sudah ada janji lain. Dan ternyata kak Zalka jurusan Manajemen Bisnis, akhirnya secara tidak langsung aku tau dia jurusan apa,” tambah ku yang mendadak bermonolog. Lalu aku melihat sahabatku
“FANNYYY CEPETAN UDAH TELAT NIH!!!” teriakku ketika aku melihat Fanny dari jauh.
“Sorry sorry gue tadi sakit perut dan di kantin ngantri banget parah kayak yang mau dapet sembako,” jawabnya sambil berlari dan napas terengah-engah.
“Yaudah lo tenangin diri dulu abis itu kita pergi,” jawabku.
*****
Setelah itu kita pergi menuju café yang akan menjadi tempat kita mengerjakan tugas tapi aku tak tahu dimana tempatnya karena aku tak bertanya lalu langsung mengiyakan begitu saja dan yaaa aku hanya akan mengikuti Fanny kemanapun dia pergi. Tapi apa yang terjadi ternyata diluar dugaan dan tak pernah aku sangka ternyata Fanny berjalan menuju pintu gerbang belakang kampus dan benar saja ternyata café tujuan kita adalah café yang sama dengan tempat yang dikatakan kak Nancy. Perasaanku mulai tak karuan antara rasa senang akan bertemu orang yang aku nantikan tapi akupun takut dia mengira aku kesana untuk menemuinya karena bisa saja kak Nancy memberitahunya.
Kami memasuki café dan langsung menuju Nathalie, Fajar, dan Dzaki. Akupun berjalan menatap luus teman-temanku tanpa melirik kesana kemari aku takut akan hilang fokus lagi. Dan aku pun langsung duduk di samping Dzaki.
“Kalian dari mana sih lama banget kita nunggu dari tadi nih liat minuman kita udah mau abis,” ucap Nathalie yang terlihat bosan menunggu.
“Iya nih, perasaan dari kampus kesini paling lama juga 15 menit udah nyampe.” sambung Dzaki.
“Tau nih si Fanny sumpah ya dia lama banget, gue nunggu deket kantin udah bosen banget,” ucapku.
“Sorry sorry guys tadi ngantri banget kantin duh kek lagi ngantri sembako,” ujar Fanny.
“Eh btw Lin, lo tadi keknya ada ngobrol sama cewe siapa?” tambah Fanny sambil kita duduk di kursi dan mulai mengeluarkan barang.
“Ahhh itu… (ting tong) bentar bentar” aku menghentikan ucapan saat melihat notifikasi pesan yang mengejutkan.
Zalka mengirim sebuah foto dengan pesan “Serius amat mukanya senyum dikit dong.”
Sontak aku langsung mencari keberadaan dia dan dia ada di sudut kanan panggung yang nampaknya sedang bersiap untuk tampil. Lalu dia melambaikan tangan dan tersenyum kepadaku dan dia kembali mengirim pesan
“Nanti jangan dulu pulang ya tunggu aku dulu. Kamu lagi nugas kan? Semangat.”
Akupun secara tidak sadar tersenyum dan mengangguk sambil melihat ke arahnya tadi lalu tiba tiba
“Heh Lin, itu siapa girang banget lo keknya pas dapet chat pake salting gitu lagi, ngaku loh sama gue itu gebetan lo ya?” tanya Fajar dengan antusias.
“Apaan sih Jar, jangan aneh-aneh deh bukan siapa-siapa kok. Dah ayok kita nugas deadlinenya bentar lagi juga,” jawabku dan segera mengalihkan topik.
Aku berfokus pada tugasku saat itu dan sesekali kami beristirahat dan menyaksikan penampilan dari band TRACE di café itu. Aku bersyukur karena fokusku pada tugas bukan padanya.
*****
Setelah 1 jam akhirnya tugas kami pun selesai dan kita bersiap untuk pulang dan aku bilang pada mereka agar pulang duluan karena aku ada keperluan lain. Saat itu Fajar menatap curiga padaku namun dia tak banyak berbicara. Anggota band TRACE pun sudah terlebih dahulu pergi kecuali Zalka dan Nancy. Aku tak melihat mereka keluar dari café itu. Tapi karena aku sudah berjanji, akhirnya aku menunggunya di luar café. Selang 15 menit menunggu Zalka dan Nancy terlihat keluar dari café bersama dan Nancy pergi lebih dahulu.
“Gue duluan ya Ka, bye. Lin duluan yaaa. See you next time,” ujar Nancy.
“Ok, bye. Inget besok latihan, jangan pacaran mulu lo,” sambung Zalka.
“Iya iya, bawel banget si lo,” ucap Nancy.
Aku merasa aneh pada diriku mengapa mudah sekali aku terkejut hari ini. Untung saja aku memiliki jantung yang sehat. Aku terkejut karena Nancy menyapaku dan ternyata dia telah memiliki pacar.
“Apa kabar Lin? Kamu belum makan kan? Tadi aku liat kamu cuman beli dessert sama minuman aja. Kita makan yu, aku mau ngomong sesuatu,” tanya Zalka.
“Emm not bad. Boleh, kita mau kemana?” jawabku.
“Kamu tunggu disini sebentar, aku ambil mobilku dulu ya,” sambung Zalka dan pergi menuju parkiran.
*****
Kini kita tiba di sebuah restoran Sushi yang cukup terkenal dan ramai didatangi. Selama di mobil kita tidak banyak berbicara karena dia harus menjawab telpon temannya dan akupun melanjutkan tugasku yang belum tuntas. Disana kami memesan beberapa sushi sambil menunggu sushi nya datang kami akhirnya mengobrol
“Lin… Sebenernya aku lupa bilang sama kamu waktu itu. Aku seneng banget bisa ketemu kamu di gebyar kemarin. Mungkin kamu gak sadar, tapi aku udah merhatiin kamu sejak SMA tapi aku gak percaya diri buat maju, dan aku sangat bersyukur sejak tau kita satu kampus dan ternyata kamu menjadi panitia gebyar kemarin. Ah iya satu lagi sorry ya si Nancy tadi kamu ketemu dia kan di kampus? Dia emang gitu anaknya gak bisa diem mohon di maklum. Ahhh aku terlalu banyak ngomong ya,” jelas Zalka dengan begitu panjang lebar dengan ekspresi yang terlihat merasa bersalah.
Aku tersenyum lebar karena merasa sikapnya yang lucu dan juga senang atas pengakuannya itu. Aku diam sejenak dan menjawab
“It’s okay kak, aku tahu kok kakak pasti sibuk baik kuliah maupun band. Aku rasa kakak ga perlu ngerasa kayak gitu sama aku. Jujur gak aku sangka kakak bahkan tau kalo kita satu kampus padahal selama ini aku penasaran kemana kakak lanjut kuliah. Tapi rasa penasaranku sudah terbayar,” lanjutku mengenai pernyataannya.
*****
“Sungguh hari yang sangat menyenangkan dan akhirnya aku kembali bertemu dengan kasurku,” gumamku.
“Aku tak menyangka kami berbincang begitu banyak hal tentang satu sama lain. Aku merasa kita menunjukkan rasa tertarik satu sama lain dan kita kayak orang yang melepas rindu wkwk padahal kita sebelumnya cuman merhatiin dari jauh dan kita sama sama gak tau.” sambungku.
*****
Waktu demi waktu, hari demi hari hubungan kami semakin dekat hingga kami kini telah menjalin sebuah hubungan. Yaa ini bulan 2 kami berpacaran, waktu-waktu yang kami lalui dengan indah dan saling mengerti bahkan kami saling membantu dalam mengerjakan tugas padahal jurusan kami sama sekali tidak berkaitan. Namun siapa sangka kami saling berbagi ide untuk hal tersebut.
Hari ini tepat hari jadi ke 2 bulan kita, sayangnya kita tidak bisa bertemu hari ini karena dia lagi di luar kota bersama anggota bandnya. Aku sedih, tapi apa boleh buat dia sedang berusaha mengejar mimpinya.
Waktu menunjukkan pukul 7.00 wib tandanya aku harus berangkat ke kampus karena ada kelas Structure III hari ini. Sebelum aku berangkat, ada yang menekan bel ketika aku akan pergi jadi sekalian saja aku membukanya.
“Iya sebentar,” jawabku agar yang menekan bel tersebut tahu bahwa ada orang di rumah.
Saat ku membuka pintu
“Siap….aa, HAH? KAK ZALKA??” aku yang terkejut melihat orang yang aku rindukan ada di depan pintu rumahku.
“Bentar deh bentar kok kakak disini sih? Bukannya pulangnya besok ya? Kan ada perform tambahan?” tanyaku yang sedang merasa senang namun masih terheran-heran.
“Hahaha, maaf sayang kemarin sebenernya aku bohong, soalnya aku mau kasih kamu surprise hari ini. Selamat 2 bulan gadis cantik, aku bawa morning coffe favorit kamu. Ya anggap saja permintaan maaf karena aku yang begitu sibuk,” jawabnya dengan begitu penuh senyuman.
“Iiiihhh kamu gitu ya belajar bohong, tapi makasih ya coffe nya dan selamat 2 bulan juga sayang,” jawabku yang begitu senang dan kesal dengannya.
“HAH? Udah jam 7 lewat, kak aku sorry tapi aku harus berangkat sekarang aku ada kelas,” lanjutku yang mulai panik dan takut terlambat.
“Kamu kenapa panik gitu sih? Kan ada aku yang bakal anter kamu dan itulah tujuan aku datang pagi ini,” jawabnya.
“Iya iya makasih sebelumnya, tapi bisa gak kamu ngomongnya sambil jalan telat nih kaaakkkkk,” aku yang mulai sedikit kesal karena sedang panik.
Dia membalasku dengan sebuah tawa. Kami pun bergegas menuju mobilnya dan dia mengantarkan aku hingga ke depan kelas. Untungnya dia berkendara lebih cepat dan aku tidak terlambat. Kamipun harus berpisah sementara tapi kamu berjanji akan makan bersama siang nanti.
*****
“Duh kak Zalka mana yaaa kok belum datang juga, aku udah nunggu lama. Di telepon juga gal aktif, sebelumnya juga gak ngasih kabar apa-apa. Kemana ya? Atau ada keperluan mendadak ya? Tapi jika iya dia pasti bakal chat aku,” gumamku yang gelisah karena Zalka tak kunjung datang.
Pada akhirnya aku memesan makan terlebih dahulu karena jam makan siang hampir lewat. Aku masih menunggu nya selagi menyantap makanan ku, namun hingga makananku habis pun dia tidak terlihat datang ke restoran. Aku gelisah, khawatir, sekaligus kesal karena ini kedua kalinya dia tak datang saat janjian tanpa ada kabar.
“Kak Zalka kemana sih sebenernya? Kalo gak bakal dating harusnya dia ngabarin dulu jadi aku gak usah nungguin gini dari tadi. Makanpun aku jadi sendiri, yaudahlah aku pulang aja lagian may ngapain juga sekarang disini toh udah makan juga” ucapku yang kesal menunggu Zalka.
*****
2 hari setelah hari itu akhirnya dia mengabari bahwa dia hari itu di minta untuk menemani dosennya melakukan kunjungan ke suatu tempat yang pelosok dan tidak ada sinyal. Sebenarnya aku bisa mengerti karena dia juga seorang asisten dosen namun aku tetap kesal karena dia bisa saja mengabariku terlebih dahulu saat dia diperjalanan menuju tempat itu.
Akupun akhirnya bad mood hamper seharian, aku dan teman-temanku berkumpul bersama di taman dan mengerjakan tugas namun tampaknya separuh jiwaku sedang pergi entah kemana hingga akhirnya Nathalie menepuk pundakku dan berkata
“Heh Lin, lo kenapa sih dari tadi diem mulu, PMS ya lo? Bukannya pacar lo udah ngabarin ya kok masih cemberut gitu, lo raga tanpa jiwa, badan lo sama kita jiwa lo ntahlah kemana.”
“Iya nih, atau lo ada masalah? Lin lo kalo ada apa-apa cerita dong tumbenan banget lo gak banyak komentar padahal biasanya lo banyak ngomong kalo lagi nugas,” tambah Dzaki
“Sorry guys, gue gapapa kok. Cuman lagi gak mood aja biasalah. Yuk ah lanjut aja nugas, kangen ya lo semua dengan gue yang bawel,” jawabku.
“Dih pede banget lo, nyesel gue nanya,” jawab Nathalie dan aku mulai tertawa oleh mereka.
Selang beberapa waktu setelah itu, Zalka datang menghampiriku. Dia menyapa teman-temanku dan mengajakku berbicara sebentar.
“Gih bawa aja, lagian disini juga cemberut mulu. Kalo udah senyum baru balikin,” ujar Fanny.
“Ih apaan sih lo Fan, tugas belum selesai juga lo malah nyuruh gue pergi,” jawabku untuk Fanny.
“Kita ngobrolnya nanti aja aku masih nugas,” kataku pada Zalka tanpa menoleh padanya.
Namun, teman – temanku tetap saja menyeretku pergi dengan Zalka. Mengapa mereka malah membantu Zalka bukannya membantuku? Yang teman mereka itu Zalka atau aku sih?
*****
Kita tiba di sebuah café, dia memesankan minuman kesukaanku dan minuman favorit nya. Lalu dia mulai berbicara
"Alinaa sayang… aku minta maaf soalnya gak ngabarin kamu hari itu. Itu bener-bener dadakandan aku harus nyiapin barang-barang hari itu juga. Kalo kamu ga percaya …” ungkapnya yang sebenarnya belum selesai berbicara namun aku potong karena aku tak ingin dia terus meminta maaf nantinya hanya karena aku yang terlalu egois.
“Ok ok udah minta maafnya, iya tau aku juga ngerti. Kita gak usah permasalahin itu lagi. Tapi inget satu hal, lain kali kalo kita ada janji ketemu dan kamu gak bisa dating, semendesak apapun itu kabarin aku biar aku gak perlu nunggu kamu bakal dateng atau engga. Lain kali gak akan aku maafin kamu kalo kamu gitu lagi, ngerti?” jawabku.
“Dan lagi kamu juga walaupun sibuk jangan lupa makan. Kita baru 1 minggu gak ketemu kamu udah kurusan.” sambungku.
Akhirnya kita berbaikan dan mood ku perlahan kembali, namun aku tak bisa berlama-lama dengannya bukan karena aku masih kesal tapi karena kita pergi ditengah-tengah aku sedang diskusi dengan kelompokku. Dan akhirnya, aku memintanya untuk mengantarku kembali ke taman. Setelah sampai di taman dia langsung pulang untuk beristirahat.
*****
Hari ini tepat tanggal 23 Oktober sebuah hari yang begitu special bagi orang yang aku sayang. Yap, hari ini Zalka berulang tahun yang ke 21 tahun dan menjadi ulang tahun pertama dia bersamaku. Tentu saja aku menyiapkan hadiah special untuknya dan tak sabar untuk bertemu dengannya nanti malam. Aku telah mereservasi sebuah restoran untuk merayakan ulang tahunnya ini dan aku berharap ini berjalan dengan lancar.
“Gue harus cepet-cepet ke kampus biar bisa ngucapin langsung walaupun malem sebenernya udah sih lewat video call tapi rasanya kurang lengkap. Pokoknya hari ini kita harus ketemu udah 2 minggu kita gak ketemu langsung.” gumamku sambil bersiap-siap.
*****
Setibanya di kampus aku langsung menuju ruang kelasnya. Namun, aku tidak melihat dia ada di kelasnya. Aku mencoba menghubunginya namun tidak aktif. Secara tidak sadar aku mulai khawatir, akhirnya aku mencoba bertanya ke teman sekelasnya.
“Halo kak, kalo kak Zalka udah datang belum ya?’ tanyaku pada seorang laki-laki yang entah siapa namanya.’
“Dia gak masuk kelas udah beberapa hari,” jawab laki-laki itu.
“Gak masuk? Kenapa ya dia gak masuk?’ tanyaku lagi.
“Lah kok nanya gue, lo bukannya pacarnya Zalka ya? Gimana sih” jawabnya.
“Emm .. iya kak. Kalo gitu makasih ya kak” jawabku pada laki-laki itu.
Lalu aku mulai beranjak pergi dari kelas itu dan mencoba mencari Nancy
"Duh kak Zalka sebenernya kemana sih? Gue juga gak liat kak Nancy lagi, gue khawatir dia kenapa – napa. Walaupun sebenernya gak suka sih, tapi kali ini gue harap kak Nancy tau dimana keberadaannya” gumamku dalam hati sambil mencari-cari kak Nancy.
Drak ….. aku bertabrakan dengan seorang pria dan buku-bukunya terjatuh lalu aku membantunya
“Aduh kak maaf aku … kak Khaizur??? Syukurlah aku akhirnya ketemu kakak. Ini kak bukunya” aku terkejut dan bersyukur akhirnya bertemu dengan salah satu sahabat Zalka.
“Eh Lin, gue juga nyari-nyari lo dari tadi. Tadi gue ke kelas lo tapi lo nya gak ada. Btw Lin si Zalka kemana sih udah 1 minggu dia gak masuk kuliah, di telpon juga gak aktif, gue ke rumahnya juga gak ada siapa-siapa, dosen-dosen pada nanyain dia. Gue agak khawatir soalnya dari dulu dia gak pernah kaya gini. Si Nancy juga gue tanya dia gak tau Zalka dimana” ucap seorang pria bernama Khaizur yang membuatku semakin khawatir tentang Zalka.
“Jadi kakak juga gak tau ya kak Zalka dimana. Aku juga gak tau kak dia dimana tapi malem tadi kita masih video call tapi katanya lagi di luar gitu dan kita juga jarang komunikasi akhir – akhir ini, terakhir ketemu aja 2 minggu yang lalu. Dan kak Nancy kemana ya aku cari-cari dia dari tadi?” jawabku dengan penuh rasa cemas.
“Maaf tapi apa kalian lagi ada masalah?” tanya Khaizur
“Oh iya Nancy lagi ke luar negeri dia lagi cuti katanya sih keluarganya yang di Boston lagi sakit parah jadi dia bantu jagain.” tambahnya
“Gak ada kok kak. Aku fikir dia lagi sibuk dengan kerjaannya jadi aku gak banyak tanya aku takut dia malah ke ganggu. Oh gitu pantas saja aku udah lama gak lihat kak Nancy” jawabku.
“Lo gak usah khawatir ya Lin, nanti gue coba cari tau dia sebenernya kemana. Kalo ada info pasti gue kabarin lo. Dan sorry gue harus pamit soalnya bentar lagi ada kelas.” ucapnya yang mencoba menenangkanku.
“Ah iya kak, maaf banget ya aku jadi ganggu kakak disini dan maaf aku ga sengaja nubruk tadi,” jawabku.
“Santai aja, gue pamit ya.” jawabnya sambil pergi.
*****
3 bulan telah berlalu sejak terakhir kali Zalka mengabariku. Kejutan ulang tahun yang akan aku berikan pun gagal. Tidak ada kabar maupun petunjuk tentang keberadaannya yang sebenarnya. Khaizur pun ikut khawatir karena sahabatnya menghilang tanpa kabar yang bisa membuatnya mengulang semua mata kuliah semester ini.
Aku dan Khaizur terus bertukar kabar terbaru tentang Zalka yang belum menemukan titik terang. Tak jarang aku tidak fokus dalam kuliah karena begitu mengkhawatirkannya. Aku tidak bisa mencurigainya karena setiap kali kita jarang bertemu dan saat bertemu kembali Zalka terlihat kehilangan berat badannya. Aku merasa khawatir dia sebenarnya sedang sakit tapi aku gak mengharapkan hal itu terjadi.
Kini kita telah memasuki liburan semester genap. Aku, Khaizur, dan Fanny berencana untuk mencari kabar Zalka melalui kerabat-kerabatnya. Aku begitu berterima kasih dan mengandalkan Khaizur karena dia mampu mendapatkan informasi tentang kerabat Zalka.
Selagi mencari, aku secara rutin terus mengirim pesan pada Zalka walaupun sejak tanggal 23 Oktober 2015 hingga kini tak pernah pesan itu diterima olehnya. Rumahnya yang kini ditinggali oleh pemilik baru membuat kami semakin sulit untuk memastikan keberadaannya.
*****
Kini tepat tanggal 15 Maret 2017 yang seharusnya menjadi hari anniversary aku dan Zalka yang ke 2. Namun hingga kini kami tidak mengetahui keberadaannya. Yang kami tahu hanya sebuah kabar bahwa di tahun 2015 mereka pindah ke luar negeri tapi negara mana yang dituju tidak ada yang mengetahuinya.
Kini aku ada di tingkat akhir perkuliahan. Aku tidak bisa melupakannya namun aku juga tidak yakin dengan status hubungan kita ini. Masih bisakah aku menganggapnya sebagai pacarku atau apakah dia bahkan masih mengingatku? Dan aku diposisi yang sebenarnya menuntutku untuk tak memperdulikannya karena tak lama lagi aku akan lulus kuliah. Untuk pekerjaan sebenarnya aku tak begitu khawatir karena sudah ada perusahaan yang akan mengontrak aku ketika lulus. Mereka menyukai kinerjaku ketika aku sedang magang.
Dan satu hal lagi, selain Zalka, Nancy pun ikut menghilang tanpa kabar. Khaizur pun kini sibuk dengan pekerjaannya dan kami tidak sesering dulu dalam memberi informasi tapi tetap kami saling bertukar kabar. Untungnya aku memiliki sahabat yang begitu baik dan setia, dia selalu membantu dan menemaniku ketika aku ingin mencari Zalka.
*****
“Alina kamu ini masih aja ya mikirin Zalka, dia udah pergi gitu aja bertahun-tahun gak ada kabar masih aja kamu suka. Kamu sekarang udah kerja Lin, dia juga pasti udah punya pacar baru mungkin aja malah udah nikah. Mending kamu cari laki-laki lain yang jelas keberadaannya, contohnya si Khaizur dia selalu bantu kamu mungkin aja dia juga tertarik sama kamu,” tegas Ayahku yang sudah bosan melihatku terus mencari keberadaan Zalka.
“Ayah kok gitu sih ngomongnya? Aku sama kak Khaizur tuh cuman sahabat dan kak Khaizur juga sahabatnya kak Zalka jangan aneh aneh dong Yah,” jawabku dengan nada yang sedikit kesal.
“Alina sayang, Bunda ngerti kamu begitu sayang sama Zalka. Bunda tau Zalka anak yang baik, tapi lihat nak, kamu yang paling tau dan merasakan sendiri rasa sakitnya ketika Zalka pergi tanpa kabar dan bahkan Bunda tau kok sebenernya Zalka dan keluarganya pindah ke luar negeri. Sayang denger Bunda ada saat dimana memang kita harus melepaskan seseorang yang kita sayang kalau mempertahankannya malah menyakiti dirimu nak” sahut Bunda dengan penuh kekhawatiran.
“Bundaaaaaa …..” dan untuk pertama kalinya dan dihadapan kedua orang tua ku aku menangis karena Zalka.
Bunda mulai memelukku tanpa sepatah kata pun dan Ayah menepuk lembut puggungku agar aku bisa lebih tenang. Bendungan ya yang aku bangun selama ini pada akhirnya runtuh karena ucapan bunda yang menyadarkan ku, dengan air mata berlinang aku mengatakan
“Yah, Bun, mungkin saja dihati Zalka sekarang udah gak ada aku dan malah bisa saja orang lain. Aku pun tau cepat atau lambat aku harus lepasin Zalka. Tapi Ayaah, Bundaa, aku gak bisa lepasin dia gitu aja sementara aku penasaran kenapa dia pergi,” ucap ku pada orang tua ku.
“Kalo harus jujur, aku marah, aku kesel, aku kecewa, bahkan ingin rasanya aku benci sama kak Zalka. Aku juga gak sanggup terus-terusan kayak gini, aku udah coba Bun, aku udah coba buat lupain dia, lepasin dia, nyoba buka hati tapi apa yang terjadi? Itu malah makin bikin aku sakit dan gak bisa lupa sama dia bun. Jadi Ayah, Bunda aku mohon jangan larang aku buat nyari kak Zalka, aku janji kalo tahun depan masih gak ada kabar tentang kak Zalka aku bakal lepasin kak Zalka dan aku akan sedikit demi sedikit belajar untuk gak mikirin dia terus, “ jelasku pada Ayah dan Bundaku.
“Okey sayang, kita akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Dan ingat, kamu masih punya Ayah sama Bunda jangan dipendam sendirian” ujar ayahku yang begitu mengkhawatirkanku.
Kamipun saling menguatkan satu sama lain dan aku merasakan energi tambahan dari dukungan yang diberikan oleh kedua orang tuaku.
*****
(Ting tong) terdengar suara bel berbunyi dan aku segera menghampiri pintu dan membukanya. Hari ini 16 Juni 2017, seorang wanita yang sangat tak asing namun baru berjumpa kembali mengunjungi rumahku.
“KAK NANCY?” aku yang begitu terkejut langsung memeluknya
“Ayo kak sini masuk, duduk dulu kak sebentar ya aku ambilin minum,” lanjutku dan pergi ke dapur.
“Ini kak minumnya, kakak apa kabar? Kok kakak tau alamat rumah aku? Aku seneng banget bisa ketemu kakak lagi,” sambungku yang begitu antusias senang sekaligus bertanya-tanya dan aku ditemani kedua orang tuaku.
“Satu-satu dong nanyanya dan aku juga tau apa yang pengen kamu tanyain lin. Oke aku jawab ya, kabar aku saat ini sangat baik karena aku kembali bertemu gadis cantik yang kini semakin dewasa. Dari mana aku tau alamat kamu ini berhubungan dengan hal yang ingin kamu tanyain dan juga tujuan aku datang kesini,” jawabnya.
“Maksud kakak apa ini berhubungan sama kak Zalka?” tanyaku yang terheran dan entah kenapa mulai merasa curiga dan sedih.
“Ya benar, kehadiran aku disini berkaitan dengan Zalka dan banyak hal yang telah lama aku pendam yang sebenarnya aku udah gak tahan mau ngasih tau kamu. Dan satu lagi sebelum kita bahas Zalka, sebenarnya baru-baru ini Khaizur juga tau tentang hal yang akan aku ceritakan dan aku minta dia buat gak ngasih tau kamu karena aku mau bilang secara langsung karena aku pihak yang terlibat langsung dengan Zalka. Aku mau tanya sama kamu, apa kamu masih suka sama Zalka?” jawabnya yang akhirnya menanyakan hal yang kini sulit aku jawab.
“Emmm.. aku gak tau kak bagaimana perasaan aku saat ini, terakhir kita ketemu aja udah 2 tahun lalu dan sejak itu gak ada kabar sedikitpun. Tapi yang jelas selama ini aku begitu khawatir tentang dia yang tiba-tiba menghilang” jawabku dengan sedikit ragu-ragu.
“Oke ini bakal panjang, dan aku harap kamu dengarin sampai aku selesai baru kamu boleh nanya. Aku gak bisa maksa kamu buat gak marah dan gak benci Zalka, tapi kamu juga gak bisa sepenuhnya menyalahkan Zalka karena ini bukan kehendaknya. 2 tahun lalu tepatnya tanggal 23 September 2015 aku dan Zalka mengalami kecelakaan saat pulang dari kegiatan penelitian di Boston. Aku dan Zalka syukurnya saat itu gak ada luka yang parah dan kita hanya menjalankan perawatan selama 1 hari lalu pulang ke Indonesia. Tapi selang 2 minggu Zalka mulai ngerasa ada efek samping dari benturan pas kecelakaan dan ternyata Zalka mengidap gegar otak yang terlambat terdeteksi. Pada akhirnya Zalka balik lagi ke Boston untuk memeriksa keadaanya lagi dan aku ikut ke Boston. Dan ternyata Zalka mulai nge drop kondisinya sampe akhirnya keluarganya menyusul. Aku berniat ngasih tau kamu dari dulu tapi Zalka terus larang aku ngasih tau siapapun agar kamu gak khawatir karena dia optimis bakalan balik lagi. Di hari ulang tahun dia kondisinya tak begitu baik tapi dia maksa pengen video call dengan orang yang dicintainya sejak lama. Di pagi harinya kondisinya kembali drop dan Zalka mengalami masa kritis selama 2 bulan dan akhirnya dia koma selama 1 tahun. Di awal tahun 2016 keluarganya memutuskan menjual rumah mereka dan pindah ke Boston, usaha Papahnya pun dilakukan melalui jarak jauh,” penjelasannya terhenti karena Nancy mulai menangis yang membuat aku tak kuasa menahan tangis ini.
Kami menangis dan aku hanya mencoba mendengarkan dengan baik dan berusaha agar tetap tegar mendengar hingga akhir. Aku berharap ada akhir baiknya nanti.
“Aku benar-benar minta maaf Lin, aku tau seharusnya kau tetep ngasih tau kamu walaupun Zalka ngelarang,” tambahnya.
“Terus setelah itu bagaimana keadaannya?” tanyaku.
“Setelah koma selama 1 tahun akhirnya dia sadar, namun fisiknya jadi lemah dia pun sempet hilang ingatansebentar. Tapi dia tetap inget sama kamu, dia bertahan dan berjuang dengan fisiknya yang lemah itu sambil mikirin kamu Alinaa dan dia selalu ngomong ke diri dia sendiri “Sabar ka, ayo kuat dan cepet pulih biar lo bisa ketemu Alina. Gak apa – apa kalo dia benci sama gue, cukup gue yang sayang sama dia” tiap hari dia bilang gitu bahkan sehari aja udah gak keitung,” tambahnya kembali namun terhenti olehku.
Entah kenapa aku mulai merasakan hal yang tidak enak dan firasatku mengatakan itu akan menyakitkan namun aku begitu merasa tersayat mendengar kalimat yang selalu diucapkannya itu. Nancy berusaha menenangkanku nampaknya dia tau firasat apa yang aku rasakan.
“Aku lanjut ya Lin. 1 bulan dia udah benar-benar pulih dan siap balik ke Indonesia, namun takdir berkata lain h-3 kepulangannya kondisi dia mulai drop lagi dan itu membawanya kembali pada sang pencipta. Aku benar-benar minta maaf baru bilang sama kamu sekarang, butuh waktu 2 bulan bagi aku buat sanggup ceritain semuanya ke kamu tanpa ada yang terlewat. Dia kini beristirahat dengan tenang tanpa rasa sakit di Oslo, karena jarak yang tak memungkinkan untuk membawanya ke Indonesia. Sebelum kondisinya semakin drop hingga hilang kesadaran dia sempat berpesan buat kamu bahwa dia berharap kamu gak marah sama dia karena dia pergi tanpa kabar dia juga janji bahwa ini terakhir kalinya dia menghilang tanpa kabar. Lalu jika kamu memang benci dia, dia harap kamu bisa bertemu dengan orang yang sangat mencintai kamu melebihi dia. Dan orang tuanya menitip pesan bahwa mereka juga minta maaf sama kamu kalau mereka ataupun Zalka memiliki kesalahan padamu dan mereka berharap agar kamu bisa mengikhlaskan Zalka seutuhnya dan berbahagialah,” sambungnya yang akhirnya membuat tangisanku pecah.
Aku menangis begitu kencang sambil memeluk bundaku, aku begitu menyesal karena tidak lebih karena tidak lebih awal mengenal Zalka. Rasa kesalku padanya pun sirna karena kini aku begitu merindukannya.
*****
Satu minggu telah berlalu sejak kedatangan Nancy. Aku selama 1 minggu menguatkan diri dan memberanikan diriku untuk terbang ke Oslo menemui Zalka Muhammad Revaldy laki – laki yang aku cintai, kekasih pertamaku sekaligus cinta pertamaku. Aku akan mengakhiri kisah cinta pertamaku dengan menemuinya untuk terakhir kalinya. Ayah dan Bundaku mengizinkanku untuk mengunjungi Zalka bersama sahabatku Fanny. Minggu lalu, Nancy memberikan alamat orang tua Zalka dan lokasi peristirahatan Zalka.
Aku dan Fanny terlebih dahulu mengunjungi keluarga Zalka untuk menyampaikan bela sungkawa dan juga permintaan maafku yang tidak mengetahui kondisinya selama ini. Lalu terakhir kami mengunjungi laki-laki hebat yang memperjuangkan hidupnya hingga hembusan nafas terakhirnya.
“Zalka sayang, ini aku Alina. Maaf aku terlambat datang kesini, aku gak marah kok sama kamu dan gak pernah aku gak inget atau gak sayang sama kamu. Maaf karena aku gak bisa nemenin kamu di masa yang sangat sulit buat kamu. Sayang, aku berterima kasih atas segala cinta dan usaha yang kamu kasih buat aku. I just want you to know that I love you so much more than you know. Aku bahagia di setiap waktu kita bersama. Kaaa sekarang aku izin untuk pamit ya, maaf aku harus lepas kamu sekarang. Aku bakal lanjutin hidup aku dan gak akan menyia-nyiakan usaha yang kamu lakukan sebelum kamu akhirnya beristirahat selamanya.”
“Zalka Muhammad Revaldy terima kasih ku ucapkan untuk semua cinta dan perjuanganmu. Sayang, aku pamit.”
THE END
Komentar
Posting Komentar