Cerpen by Putri Awis Nur Fadilah
LUKA
Nama ku adalah Lia, Aku adalah seorang gadis yang akan melanjutkan kuliah ke luar negeri dengan beasiswa yang aku dapatkan. Pada malam hari Ibu ku memberi kan ku tiket pesawat ke Boston, ia memberi tahuku bahwa aku akhirnya mendapat kesempatan mendapatkan beasiswa yang aku daftarkan sebelumnya. Aku langsung memeluk ibuku, aku sangat senang bisa melanjutkan kuliahku ke luar negeri, walaupun aku tidak punya pengalaman dengan dunia luar, tapi aku tetap sangat merasa exited tanpa rasa khawatir sedikitpun, dan juga aku tidak harus berususan lagi dengan suasana rumah yang selalu membuatku depresi. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin meninggalkan Ibuku, ia selalu menjadi pelampiasan amarah dari ayahku ketika ia sedang dibawah pengaruh alkohol. Aku bertanya kepada Ibuku
“Ibu ayo ikut aku” tetapi Ibu ku menjawab
“tidak Nak, ibu tidak akan meninggalkan ayahmu disini sendirian, walaupun ayahmu seperti itu ia sebenarnya menyanyangi kita” jawabnya sambil mengusap kepalaku
Sejujurnya aku sangat kesal sekaligus sedih ketika mendengar jawaban Ibuku. Aku tahu, Ayahku memang orang yang baik dan sangat menyangi keluarganya tetapi sejak kejadian 2 tahun yang lalu saat ia harus kehilangan satu kaki nya akibat kecelakaan, hal ini menyebabkan ia tidak dapat bekerja kembali ataupun mencari uang. Sejak saat itu, Ayahku berubah menjadi orang yang sentimental dan sering minum-minum, tetapi walaupun begitu ibuku tidak pernah mempunyai niat untuk meninggalkan Ayahku sekalipun.
Keesokan pagi dengan berat hati, akhirnya aku pergi meninggalkan Ibu dan Ayahku di rumah, sebelum pergi untungnya Ayahku dalam keadaan yang sedang baik-baik saja, lalu ia memberikanku sepucuk surat dan mencium keningku sambil berkata
“Hati-hati di jalan ya nak, Ayah bangga denganmu. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan menjaga diri kamu selagi disana, jangan khawatirkan Ibu dan Ayah kami akan baik-baik saja”
“Ayah tolong jaga Ibu, jangan minum-minum lalu meluapkan emosi nya kepada Ibu, aku mohon” ucapku sambil memegang tangan ayahku
Ayahku hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Setidaknya hal ini bisa membuatku tenang selagi aku pergi.
Setelah itu aku menghampiri Ibu ku dan memeluknya dengan erat, Ibu ku menangis di pelukanku sambil mengusap-usap kepalaku terus menerus. Sama hal nya seperti Ayahku, Ibuku juga memberikan sepucuk surat kepadaku
“Nak, tolong jaga dirimu baik-baik disana, jangan sampai terluka. Jangan lupakan Ibu dan Ayah ya nak” ucapnya sambil tersenyum lalu mencium keningku
“Tentu saja Ibu, mana mungkin aku melupakan kalian” jawabku sambil kembali memeluk Ibuku sebelum aku benar-benar pergi
Setelah berpamitan aku akhirnya benar-benar pergi dari rumah untuk melanjutkan kuliahku disana. Ini adalah pengelaman pertamaku pergi jauh dari kedua orangtua ku. Aku sempat khawatir karena takut tidak bisa bersosialisasi dengan baik disana, tetapi Ibu ku selalu memberiku semangat yang benar-benar bisa merubah pemikiranku itu.
------
Setelah beberapa jam di perjalanan, akhirnya aku sampai di tempat yang dituju. Sesampainya disana, aku disambut oleh seseorang yang sepertinya juga berkuliah disana yang mendapatkan beasiswa sepertiku, ia membawa spanduk berukuran sedang bertuliskan “Selamat datang di Boston Lia”. Setelah melihat itu aku tersenyum lalu menghampirinya.
“Hii” ucapku
“eh hii, Lo Lia ya?” Tanya nya sambil menepuk pundak ku
“eh iya, saya Lia” jawabku sambil tersenyum canggung
“eh santai aja kali ga usah gugup gitu. Kenalin gue Dina, kedepannya kita bakalan jadi roommate” ucap nya ramah sambil menyodorkan tangan nya mengajak ku untuk bersalaman, lalu aku membalas nya sambil tersenyum, namun senyum yang terbentuk di wajahku kali ini adalah senyuman dengan rasa senang dan gembira, karena akhirnya aku bisa menemukan teman di hari pertama aku datang, pikirku.
Setelah itu kami pergi ke tempat tujuan menggunakan mobil yang Dina bawa. Selama di perjalanan aku dan Dina mengobrol seperti layaknya teman yang sudah bertemu sejak lama. Sepertinya aku akan bisa berteman dengan baik bersama Dina. Sambil mengobrol, tidak terasa ternyata kita sudah sampai di Asrama dimana nantinya akan menjadi tempat tinggal ku. Aku dan Dina turun dari mobil
“Nah ini dia asrama kita” ucap Dina sambil menunjuk letak asrama menggunakan jarinya
Pertama kali aku melihat asrama itu, asrama nya terlihat seperti asrama yang selalu aku lihat pada umumnya hanya saja di asrama ini aku merasa bahwa tidak ada penghuninya karena sepi sekali, bahkan di halaman luar yang terbilang indah dengan taman bunga nya tidak ada seorang pun disana.
“Kok ga ada orang din?” tanyaku kebingungan
“Oh setau gue mahasiswa yang tinggal di asrama ini lagi pada cuti tuh”
“ohh gitu ya” jawabku sambil menganggukan kepala
“udah yuk masuk aja” ucap Dina sambil merangkul pundakku untuk mengikutinya ke dalam asrama
Aku sedikit ketakutan dengan suasana disini, ini terlihat seperti di film horror yang akan muncul hantu kapan saja, tetapi ketika aku melihat wajah Dina yang terlihat santai dan biasa saja aku sedikit tenang karena setidaknya ada Dina yang menemaniku. Setelah beberapa saat, akhirnya kami sampai di lantai 2 yaitu tempat yang akan menjadi kamarku dan kamar Dina. 231, adalah nomer yang tertulis di depan pintu kamarku.
“disini ya kamar kita” ucap Dina sambil membukakan pintu
Lalu kita berdua masuk. Dan lagi-lagi aku terkejut untuk yang kedua kalinya kamar yang akan aku dan Dina tempati adalah kamar yang super besar, jika ini di hotel pasti kamar ini akan menjadi kamar luxury yang mahal.
“Din… ini beneran kamar kita?” tanyaku sambil masih menatap kamar tersebut karena kagum
“iya dong, hahahaha lo lucu banget deh baru liat ya asrama sebesar ini” Dina tertawa melihatku yang bengong karena kagum, “sini masuk jangan diem depan pintu terus” sambung Dina
Aku pun masuk ke kamar lalu merapikan barang-barang ku. Aku mencoba untuk berbaring dan kasurnya sangat-sangat nyaman, sehingga membuatku ingin tertidur pulas sekarang juga tapi aku tidak mau karena aku harus segera membersihkan diri dari perjalanan yang begitu panjang.
“Din gue mau mandi, kamar mandinya dimana ya?”
Dina yang juga sedang berbaring langsung menoleh ke arahku
“oh itu di sebelah kiri” jawabnya sambil menunjuk arah kamar mandi dengan jarinya
Lalu aku mengangguk sambil mengatakan “terima kasih” kepada Dina. Aku pikir aku sudah cukup terkejut dengan asrama ini, tetapi kamar mandi nya pun membuat ku terkejut lagi. Aku benar-benar seperti menginap di hotel bintang 5. Setelah mandi, aku langsung membaringkan badanku ke atas kasur karena aku sangat kelelahan, Dina juga sedang berbarung di kasur di sebelahku sambil menonton acara TV, lalu aku mulai membuka percakapan karena ada hal ingin aku tanyakan
“Din kayanya asrama ini gede banget ya?”
“Iya li, kapan-kapan mau asrama tour ga? Nanti gue tunjukin ada apa aja disini biar kalau gue ga di asrama lo jadi udah tau ruangan-ruangan nya”
“wahh boleh tuh” jawabku dengan riang
“udah gih mendingan sekarang lo istirahat aja, pasti cape kan”
“lo ga tidur juga?”
“Belum ngantuk gue, lo duluan aja” ucap Dina sambil masih mengarahkan pandangan nya pada Televisi.
Aku mengangguk, lalu menutup mataku bersiap untuk tidur.
------
“Lia bangun li” Dina mencoba membangunkan ku dengan menggoyang-goyangkan badan ku
“Eummm” aku bangun dengan mata yang masih setengah tertutup, lalu aku duduk karena masih mengumpulkan tenaga untuk bangun. Jujur aku sangat nyenyak tidur malam itu, sepertinya hal ini terjadi karena aku yang terlalu kelelahan.
“nih dimakan dulu, lo tidur lama banget abisnya” ucap Dina sambil memberikan makanan untukku.
“Makasih din” ucapku sambil meraih makanan yang Dina berikan, lalu aku mengalihkan pandangan ku ke arah jam dan betapa terkejutnya aku ketika melihat jarum jam telah menunjukkan pukul 1 siang.
“apa ini? aku benar-benar tidur selama ini?” ucap benak ku yang benar-benar terkejut ini.
“Din lo kenapa ga bangunin gue aja? Gue bangun siang banget ga sih ini”
“gue udah berusaha bangunin lo, tapi kayanya lo emang capek banget jadi gue biarin lo tidur lebih lama lagi, lagian kita mulai kuliah minggu depan kan jadi santai aja sih” jawab Dina sambil duduk di kasurku
“Btw lo udah rapi gini, mau kemana?” tanyaku sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut ku dan sambil melihat ke arah Dina yang sudah rapi, seolah-olah dia akan pergi ke suatu tempat.
“oh ini, gue mau ketemu pacar gue hehe. oh iya dia mau main kesini dan bawa temen nya juga, nanti gue kenalin lo sama mereka ya”
“tapi Din gue agak malu, karena mau diliat gimanapun, bagaimana pun, dan darimana pun gue bukan cewe yang terbilang good looking dan gak se-stylish lo, dan gue yakin temen-temen lo pun pasti good looking dan stylish banget” aku mengatakannya sambil menunduk kan kepalaku karena malu, jujur saja saat pertama kali aku melihat Dina dia adalah gadis yang sangat cantik dan juga mempunyai selera berpakaian yang baik, hal ini saja sudah membuatku insecure apalagi jika aku bertemu dengan teman-temannya.
“eh lo apaan sih ngomong kaya gitu, gue ga pernah nilai orang dari penampilan nya tuh. Dan siapa bilang lo ga good looking? lo itu cantik li” jawab Dina yang nada bicaranya yang agak naik karena mendengarku mengatakan hal itu, sambil memegang kedua pundak ku ia meyakinkan ku bahwa hal yang aku katakana itu adalah salah.
Setelah itu Dina akhirnya berpamitan untuk pergi menemui pacarnya. Aku merasa, rasa insecure ku sedikit berkurang berkat Dina yang sudah meyakinkanku, dia adalah teman yang sangat baik dan aku bersyukur bisa mengenalnya. Oh iya aku hampir saja lupa, sebelum Dina berangkat tadi, dia memberi tahuku bahwa jangan dulu keluar dari kamar karena asrama sedang dalam pemeriksaan oleh pihak berwajib. Aku tidak tahu mengapa asrama ini diperiksa oleh pihak-pihak berwajib itu, tapi Dina bilang ada salah satu kamar yang menyelinapkan narkoba di dalam nya, Dina berpesan untuk selalu ada di dalam kamar sampai dia datang karena jika tidak ada orang di kamar maka pihak berwajib akan mendobrak dan mengacak-acak barang-barang yang ada di dalam kamar. Aku sangat penasaran tapi aku tidak bisa mendengar apapun dari luar.
Jam sudah menunjuk kan pukul 3 sore dan Dina belum kunjung kembali, aku sangat bosan. Hal yang aku lakukan sejak Dina pergi hanya menonton TV, ada hal yang membuatku terkejut ketika menonton TV karena di TV banyak di beritakan orang hilang di daerah ini dan itu membuatku sedikit ketakutan. Aku ingin melihat keadaan di luar tapi sayangnya jendela ini tertutup oleh gorden tapi aneh nya gorden ini di pasang di jendela luar jadi aku tidak bisa membuka maupun menutup nya sesuka hatiku. Aku juga tidak bisa menelepon Ibu dan Ayah karena handphone ku sendiri sedang dibawa oleh Dina, ia mengatakan bahwa ia akan membenarkan pengaturan handphone ku agar bisa di gunakan di sini. Dari pada bosan alhasil aku hanya menonton TV saja, tapi tiba-tiba aku teringat surat yang Ibu dan Ayahku berikan kepadaku, aku belum sempat membacanya karena terlalu kelelahan. Akhirnya aku beranjak dari TV dan mulai merogoh kantung di tasku mencari keberadaan surat yang di berikan Ayah dan Ibu. Ketika aku sedang mencari surat itu, bel kamar ku berbunyi dan sepertinya itu adalah Dina.
Aku mengintip lewat jendela kecil yang ada di pintu, dan benar saja itu adalah Dina. Setelah memastikan bahwa itu Dina aku langsung membukakan pintu.
“Lama amat sih buka pintu doang” ucap Dina kepadaku dengan wajah yang terlihat sangat kesal
“Dina kenapa ya?” tanya ku di dalam benak
setelah Dina masuk, ada 2 orang laki-laki yang menyusul masuk juga
“eh bentar kalian ngapain masuk” ucapku sambil menahan pintu dengan tangan ku agar mereka tidak bisa masuk
“eh Lia, mereka temen gue ngapain tahan-tahan gitu. Sini masuk” ucap Dina yang sedang menyandarkan badannya di sofa, dengan raut wajah yang dingin dan tidak tersenyum sama sekali
Lalu kedua laki-laki itu segera menyingkirkan tanganku dari dekat pintu, aku masih tertegun disana dengan wajah yang kebingungan.
“Apa yang terjadi pada Dina? mengapa sikapnya menjadi berubah seperti itu? apakah aku melakukan kesalahan?” pertanyaan-pertanyaan ini terus muncul di otak ku.
“eh lo sini masuk” ucap salah seorang laki-laki itu
dengan keadaan yang masih kebingungan aku menutup pintu dan ikut berkumpul bersama mereka semua.
“nama lo siapa?” Tanya salah seorang laki-laki itu, “kenalin gue Alvin pacarnya Dina, dan cowo sebelah nya yang ngeliatin lo dengan tatapan mengintimidasi namanya Kenny, dia asli orang Boston tapi karena gaul mulu sama kita bahasa Indonesia nya lancar juga“ ucapnya sambil menyodorkan tangan nya dan tersenyum.
“gue Lia” jawabku sambil menjabat tangannya
“nah Lia, karena lo temen Dina berarti lo temen kita juga ya mulai sekarang” ucapnya sambil masih tersenyum kepada ku
aku mengangguk sambil tersenyum, lalu aku mulai menoleh ke arah Dina yang ternyata sudah tertidur sambil menyandarkan kepalanya di pundak Kenny. Kenny sendiri langsung menoleh ke arahku juga dengan tatapannya yang mengintimidasi, karena aku takut dan tidak ingin bertatapan dengan nya lebih lama lagi aku langsung mengalihkan pandangan ku ke arah Alvin yang ternyata sudah tidak ada di tempat nya duduk tadi, dia sudah berada di dapur untuk mengambil beberapa makanan yang ada di dalam kulkas.
“Kenny bring her to her room” teriak Alvin dari dapur
dengan sigap Kenny segera menggendong Dina menuju ke kasurnya.
Aku bingung harus berbuat apa, aku tidak bisa menyesuaikan diri ku dengan kedua laki-laki itu, andai saja Dina tidak seperti itu mungkin aku bisa lebih banyak mengobrol bersama mereka.
“Lia sini” ajak Alvin setelah setelah menyiapkan beberapa makanan. Lalu aku datang menghampirinya.
“nih Lia, dimakan ya” ucap Alvin sambil memberikan makanan kepadaku
“eh eh gausah, gue udah makan kok”
“yah kok gitu, gue udah masakin khusus buat lo padahal. Ga usah sungkan gitu li, gue bilang kan kita ini temen”
benar juga, Alvin telah bersusah payah menyiapkan makanan ini aku merasa tidak enak jika tidak memakannya setelah Alvin mengtakan itu. Karena sebenarnya aku juga lapar, akhirnya aku menerima makanan tadi
“nah gitu dong” ucap Alvin sambil tersenyum puas
lalu Kenny juga duduk di sebelahku sambil menyantap makanan yang telah Alvin buat. Karena aku sangat penasaran apa yang terjadi pada Dina, akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada Alvin lebih dulu
“emm Alvin?” lalu Alvin menoleh ke arahku “Dina kenapa ya?” Tanya ku ragu
“Dina ga apa-apa kok, dia cuma abis minum bir aja makanya jadi kaya gitu” jawab Alvin sambil menyantap makanan nya
lalu aku hanya menganggukan kepalaku pertanda bahwa aku mengerti. Setelah makan waktu telah menunjukan pukul 8 malam, Alvin dan Kenny berpamitan pulang, sebelum berpamitan pergi Alvin memberikan handphine kepadaku
“ini handphone lo kan? udah gue benerin ya, sekarang lo bisa telpon orang tua lo ataupun aktifin internet di hp lo” ucap Alvin sambil memberikan hp itu kepadaku
aku menerimanya lalu mengucapkan terimakasih kepadanya, setelah itu Alvin menitipkan sebotol air kepadaku dan menyuruhku memberikannya kepada Dina setelah dia bangun, aku mengangguk lalu Alvin dan Kenny beranjak pergi keluar. Setelah keduanya pergi, aku langsung mengecek hp ku lalu menelpon Ibu ku disana. Aku sangat ingin tahu bagaimana keadaan Ibu ku, Ayah ku bisa memegang janji nya kan?
Setelah beberapa kali aku mencoba, Ibu ku tak kunjung mengangkat telepon dari ku. Tentu saja hal ini membuatku khawatir, aku takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan kepada Ibu. Lalu saat percobaan ku yang ke-10 akhirnya panggilanku terjawab
“Halo” ucap suara penerima telepon dari seberang sana
“haloo ibu” aku menjawabnya dengan semangat
“maaf ini dengan siapa?” Tanya nya
“apakah ini dengan ibu Desi?”
“saya bukan Desi, maaf sepertinya anda salah sambung” setelah itu ia langsung menutup telepon nya.
Aku diam, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kemana ibu ku? mengapa seperti ini? lalu aku hanya bisa menangis.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, setelah kejadian itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, aku terus memikirkan Ibu ku disana. Aku juga tidak bisa bercerita kepada Dina, ia tertidur sangat pulas.
DUGGG!!! tiba-tiba ada suara dentuman keras dari luar kamar, aku terkejut setengah mati dan bertanya-tanya dari mana suara itu berasal. Setelah aku pikir-pikir lagi, hari ini aku belum keluar dari kamar ini sama sekali jadi karena aku penasaran akhirnya aku mencoba untuk membuka pintu kamar untuk mengintip keaadaan di luar. Saat aku memegang kenop pintu, tiba-tiba ada yang memegang pundakku
“ahhhhh” aku berteriak ketakutan sambil menutup mataku
“hei sttttt! ini gue Dina”
lalu aku membuka mataku dan benar saja ternyata Dina yang aku lihat beberapa saat lalu sedang tertidur pulas ternyata sudah bangun dari tidurnya.
“loh lo udah bangun” tanyaku sambil masih sedikit ketakutan
tapi Dina tidak menjawab dia hanya bilang “lo mundur dulu” katanya sambil memegang kenop pintu dan aku mundur beberapa langkah di belakang nya. Dina mulai membuka pintu sedikit dan mulai mengintip keluar, setelah beberapa saat ia mulai masuk kembali dan langsung menutup dan mengunci pintu kamar.
“Din kenapa? ada apa di luar?”
“lo pernah denger kan kalau setiap bangunan itu ada penghuninya?”
“udah udah stop, gue ga mau denger” ucapku sambil menutup telingaku rapat-rapat, karena aku memang takut dengan cerita-cerita yang bersangkutan dengan mahluk gaib.
“hahahaha lo takut sama yang gituan? padahal manusia lebih nakutin” lalu Dina beranjak pergi dan kembali ke kasurnya, aku mengikuti nya dari belakang sambil masih ketakutan.
setelah itu Dina tidak lanjut untuk tidur, tetapi dia malah memainkan handphone nya, lalu aku teringat dengan sebotol minuman yang di titipkan Alvin untuk Dina.
“oh iya Din, ini dari Alvin” ucapku sambil memberikan botol itu pada Dina
“makasih” lalu Dina mulai meminum nya “gimana sekarang lo udah temenan juga kan sama temen gue” sambungnya setelah meminum minuman botol itu
“hehe ya gitu” jawabku sambil tersenyum malu-malu “tapi Din itu yang namanya Kenny dia kenapa ya? diliat-liat dia kaya benci banget sama gue” sambungku
“ya elah Kenny emang gitu orangnya, nanti kalau udah deket bakalan baik banget kok”
“hmmm gitu ya, tapi Din lo beneran udah ga apa-apa?”
“ga apa-apa kok” jawab Dina sambil tersenyum “oh iya besok kita asrama tour yuk” sambung Dina
“wahhh ayokkk” jawabku dengan semangat, karena aku sendiri sudah sangat penasaran dengan asrama ini
Setelah itu akhirnya aku mulai mengantuk, tanpa sadar aku sudah terlelap dalam tidur ku.
------
Keesokan pagi nya, aku mulai terbangun dengan sendirinya tanpa dibangunkan oleh Dina. Aku melihat ke arah jam dan hari ini aku bangun pada pukul 9 pagi. Aku melihat Dina masih tertidur, lalu aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah aku selesai mandi dan udah siap, Dina sudah terbangun dan sedang menyiapkan sarapan untuk nya dan untuk ku.
“sini li, sarapan dulu sebelum asrama tour”
aku menghampirinya dan mulai duduk di kursi dapur
“makasih Din”
“gue siap-siap dulu ya, lo makan aja dulu” ucap Dina lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
setelah aku dan Dina selesai, akhirnya kita mulai keluar dari kamar. Setelah beberapa saat akhirnya aku bisa melihat ke luar lagi setelah seharian berdiam diri di dalam kamar.
“nih li ini kamar-kamar yang ada di lantai 2, ada 3 kamar disini termasuk kamar kita” ucap Dina sambil menujukan nya kepadaku
“kamar lain juga besar kaya kamar kita ya din?” tanyaku
“engga kok, kamar kita doang yang paling gede”
“eh iya kemarin itu ada pemerikasaan tapi kenapa ya ga ada suara apa-apa dari luar?” tanyaku sambil berjalan bersama Dina
“hah? gue juga ga tau deh” jawabnya “udah kita turun ke lantai 1 aja yu” sambung Dina mengalihkan pembicaraan
Aku merasa ada yang janggal dengan kejadian kemarin, sepertinya Dina menyembunyikan sesuatu dari ku.
Setelah itu sampailah kami di lantai 1, di lantai ini ada 4 kamar yang tersusun dari ujung ke ujung. Nampak seperti lorong rumah sakit yang panjang. Lalu pandangan ku tertuju pada kamar yang ada di paling ujung, yang mana pintu nya tidak sejajar dengan kamar lain, pintu itu tepat mengarah di depan pandanganku.
“eh Din itu ruangan apa? kenapa beda sendiri arah penempatannya?” tanyaku kebingungan
Dina menatapku sambil tersenyum, tapi entah mengapa senyuman nya kali ini terasa berbeda dengan senyuman yang biasanya. Jujur saja itu membuatku merinding
“suatu saat lo juga bakal masuk ke ruangan itu” jawabnya masih sambil tersenyum menyeramkan “nah sekarang kita liat ke taman ya” lalu senyumannya kembali berubah menjadi senyuman yang riang dan gembira
“kenapa ini? Dina kenapa kaya gini” ucap benak ku
Lalu akhirnya kita sudah sampai di taman asrama yang benar-benar luas dan indah, tapi sangat sepi.
“Din, gorden-gorden itu, kenapa di pasang di luar jendela ya?” tanyaku sambil menunjuk gorden yang menggantung di luar jendela
“ya sengaja aja, biar korban kita ga bisa liat keluar jendela”
Hah apa dia bilang? korban, maksudnya korban apa?
“korban apanya ya Din?” tanyaku ragu
“hah apa? korbnan apa?” Dina bertanya balik
“tadi kan lo bilang biar korban ga bisa liat keadaan luar”
“hah emangnya gue bilang gitu ya? lo salah denger kali” jawabnya santai
Apa ini? mengapa aku merasakan kejanggalan disini.
Lalu tiba-tiba ada suara mobil yang datang, ternyata itu adalah Alvin dan Kenny
“Hei kalian” ucap Alvin dan Kenny sambil menghampiri kita berdua
“haii” ucap Dina lalu memeluk Alvin
“eh Li, gue pinjem dulu ya Dina nya. gue mau ajak dia jalan bentar”
“eh jangan dong, aku kan lagi asrama tour ini” jawab Dina
“yaelah ga apa-apa dong kana da Kenny” ucap Alvin “udah ya gue tinggal kalian berdua disini”
“Li ga apa-apa kan?” ucap Dina sambil memegang pundak ku
“iya ga apa-apa, lo pergi aja” jawabku sambil tersenyum
“Kenny gue titip Lia ya, awas lo jangan di apa-apain” ucap Dina sebelum akhirnya pergi bersama Alvin
setelah mereka berdua pergi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Suasana nya begitu canggung. Kita berdua duduk di kursi taman dengan kesibukan sendiri, aku memainkan handphone ku padahal tidak ada yang bisa di lihat di dalam handphone ini. Tiba-tiba Kenny mulai membuka percakapan di antara kita.
“lu Lia, kan?” tanya nya dengan wajah yang dingin
“iya” jawabku sambil tersenyum canggung
Lalu setelah itu, suasana kembali hening.
“Lo lancar banget bahasa indonesia nya” ucapku asal
“so pasti, gue udah bertahun-tahun bergaul sama mereka. Dan gue belajar juga sih karena mereka berdua maksa gue harus bisa bahasa indo” jawabnya sambil menatapku
Aku hanya mengangguk, dan aku mulai berfikir Kenny sangat berbeda dengan Kenny yang aku jumpai saat pertama kali kita bertemu.
“Lo ternyata ga seserem itu ya”
“emang nya gue hantu”
“ga gitu, maksud gue waktu kita pertama kali ketemu itu lo bener-bener natap gue dengan tatapan yang mengintimidasi gitu jadi jatoh nya serem banget”
Kenny menganggukann kepalanya, sepertinya ia setuju dengan apa yang aku katakan. Lalu setelah itu kami tetap duduk di bangku taman sambil mengobrol, dan aku tidak menyangka obrolan kami sangat cocok satu sama lain, oleh karena itu kami terus mengobrol tanpa bosan dan tanpa henti. Aku mulai menyukai mengobrol bersamanya, karena banyak sekali hal-hal yang ia bisa ceritakan padaku. Setelah mengobrol terus menerus aku akhirnya mengetahui mengapa Kenny selalu bersikap dingin kepada orang yang pertama kali ia temui, Kenny selalu dikecewakan oleh orang-orang karena dirinya yang memang selalu baik kepada orang lain bahkan ternyata orang tuanya menjadi faktor utama mengapa ia bersikap demikian, orang tua Kenny meninggalkan nya tanpa alasan.
“maaf, gue terlalu banyak ngomong ya? Lo pasti bosen dengerin nya”
“Eh engga kok, ga apa-apa, gue malah seneng lo bisa cerita banyak tentang diri lo ke gue”
“tapi maaf banget ya, gue emang gini kalau nemuin orang yang nyaman buat di ajak ngobrol” ucapnya sambil tersenyum, lalu aku pun ikut tersenyum.
“Kenny, gue harap lo ga berhenti jadi orang baik ya” ucapku sambil menepuk pundak nya dan tersenyum
Kenny tersenyum pahit sambil menjawab,
“ga bisa li, gue udah jadi orang jahat” ucapnya sambil agak menundukkan kepalanya
“engga Ken, lo ga jahat. Lingkungan yang memaksa lo buat begitu, lo kaya gitu cuma buat ngelindungin diri lo dan itu ga apa-apa kok. Terkadang kita harus egois buat bisa bertahan di dunia yang kejam ini” ucap ku sambil tersenyum meyakinkan Kenny akan dirinya sendiri. Kenny menatapku sambil tersenyum, dan aku sangat senang bisa melihat sisi dirinya yang seperti ini.
“makasih banyak li. Gue bakal ngelindungin lo” ucapnya sambil merangkul pundakku
“ngelindungin gue? ngelindungin dari apa?” tanyaku kebingungan
Kenny terdiam sebentar, lalu ia mulai berbicara,
“dengerin gue baik-baik ya. Alvin, Dina, dan gue kita ini pembunuh”
kalian harus tahu, jantungku serasa berhenti berdetak disitu juga.
“kita bisa di bilang Bandar penjualan organ-organ dalam manusia, gue dikasih tugas ngobrol sama korban terus gue bakal bius korban sampai dia pingsa. Di malem hari kita mulai eksekusi korban” ucapnya dengan wajah yang serius
setelah mendengar perkataan nya aku mulai menjauh dari Kenny,
“gue ga percaya” ucapku agak ketakutan
“LO HARUS PERCAYA LI! menurut lo kenapa asrama segede ini ga ada orang nya?” ucap Kenny sambil membentak ku dan memegang kedua pundak ku.
aku menangis, menangis ketakutan. Setelah itu Kenny mulai menenagkan ku tapi aku langsung menepiskan tangan nya dari pundak ku. Tiba-tiba Alvin dan Dina telah tiba di asrama, Kenny menyuruhku untuk berhenti menangis, tapi aku tidak bisa menghentikan tangisan ku.
Alvin dan Dina mulai mendekati kami
“Lia lo kenapa?” ucap Dina yang datang lalu memeluk ku
“Kenny, lo mulai lagi ya. Please stop Ken” ucap Alvin, aku yang mendengarnya dibuat menjadi kebingungan untuk kesekian kalinya, lalu aku bertanya
“Maksud lo apa Vin ngomong gitu? Kenny kenapa?” Tanya ku sambil mengelap air mata di pipiku
“dia punya dua kepribadian, dia suka ngelantur ngeluarin cerita yang bahkan emang ga ada. Lo ga usah terlalu percaya sama dia” jawab Alvin
“shit!” Kenny mendorong Alvin dengan marah “Lia lo jangan percaya sama omongan Alvin, lo harus percaya sama gue KITA INI PEMBUNUH” ucap Kenny sambil berteriak
kulihat raut wajah Alvin dan Dina yang biasa-biasa saja, kali ini aku sangat bingung kepada siapa aku harus percaya?
“babe, Kenny udah ga beres mendingan kamu bawa dia pulang” celetuk Dina disela-sela amarah Kenny yang masih naik
lalu Alvin mulai membawa Kenny tapi Kenny bersikeras untuk membawa ku pergi
“Lia lo harus pergi dari sini” teriak Kenny sambil diseret pergi oleh Alvin, setelah itu mereka berdua akhirnya pergi dengan mobil Alvin.
“yu kita masuk aja” ajak Dina
tapi aku tidak langsung mengikutinya, aku ragu.
“Din… yang di bilang Kenny tadi apa itu bener?” tanyaku ragu
“lo lebih percaya Kenny apa gue? lo udah berapa lama kenal Kenny? lo itu baru ketemu kemarin sama dia, masa lo percaya gitu aja sih?” jawab Dina
aku terdiam, saat ini aku sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. siapa yang harus aku percaya? bagaimana apa yang di katakan Kenny itu benar? apakah aku akan benar-benar mati di sini?
“udah ayo masuk” ajak Dina sekali lagi, kali ini sambil memegang pergelangan tangan ku. Lalu aku hanya mengikuti nya dan tanpa sadar kita telah sampai di dalam kamar.
aku masih terdiam sambil duduk di atas sofa. Lalu saat itu aku teringat akan surat dari Ibu dan Ayah yang belum aku buka. Aku langsung membuka tas ku dan mencari surat itu, setelah menemukannya aku langsung membawa nya ke kamar mandi karena aku saat ini sedang tidak mempercayai siapapun jadi aku tidak mau jika Dina melihat ini.
Aku mulai menyalakan keran air yang ada di kamar mandi lalu Dengan cepat aku mulai membuka surat dari Ayah ku terlebih dahulu.
“anak ku Lia, maaf kan Ayah. Ayah dan ibu terpaksa harus menjual mu. Sebenarnya pendaftaran beasiswa mu belum di terima dan yang ibu berikan kepada mu adalah tiket pesawat dari seseorang yang membeli mu. maafkan ayah Lia maafkan ayah.”
kaki ku melemas setelah membaca surat dari Ayah dan aku hanya bisa menangis tersedu-sedu, aku tidak percaya semua ini mengapa ayah tega sepeti ini padaku, mengapa? aku bahkan rasanya tidak kuat membaca surat dari ibu ku, tetapi seperti nya aku harus membacanya.
“Lia… ada satu hal yang belum Ayah dan Ibu katakan padamu, sebenarnya kamu bukan anak kandung kami, ayah dan ibu asli mu sudah meninggal dunia jauh sebelum kamu menjadi dewasa seperti ini, mereka menitipkan kamu kepada ayah mu karena dia adalah adik dari ibu mu. Ayah dan Ibu tidak bisa menghidupi mu lagi nak, dengan finansial kita yang serba kekurangan ini. Maafkan kami Lia, kami memang tidak pantas untuk di sebut orang tua. Aku menyayangi mu Lia”
hati ku hancur saat itu juga, aku hanya bisa menangis sambil memegang dadaku yang benar-benar sakit setelah membaca surat itu. Aku ingin berteriak sekencang-kencang nya
“mengapa dunia sangat kejam kepada ku? seperti nya tidak ada lagi alasan untuk ku hidup di dunia ini lagi” ucap benak ku
Tetapi aku tidak bisa diam saja, aku harus berjuang sekuat tenaga agar bisa keluar dari tempat ini. Walaupun aku tidak punya alasan untuk hidup, tapi aku tidak mau mati konyol di tempat seperti ini. Aku lalu keluar dari kamar mandi dan setelah keluar ternyata di sana sudah ada Alvin dan Dina yang menatap tajam ke arahku. Tatapan nya itu, membuatku merinding ketakutan.
“lo udah tau?” Tanya Dina tidak seperti biasanya, wajahnya terlihat sangat seram seakan-akan dia akan membunuhku saat ini juga.
tanpa pikir panjang aku mulai berlari ke arah pintu, aku mencoba untuk membuka pintu kamar ini tapi tak kunjung terbuka juga.
“eh emang lo pikir kita bego? mau sekuat apapun lo coba lo ga akan bisa keluar dari ruangan ini” ucap Dina kemudian tertawa bersama Alvin
aku berteriak dengan kencang “TOLONGGGG” tapi tidak ada yang bisa membantu ku. Aku tidak bisa menemukan handphone ku, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Alvin dan Dina mulai mendekati ku secara perlahan, aku mulai terpojok di ujung pintu sana dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Apakah ini adalah saat nya aku mati? pikirku.
ketika aku mulai pasrah akan semuanya tiba-tiba ada klakson mobil yang membuat Alvin dan Dina menoloh ke arah suara itu lalu saat mereka menoleh ke belakang aku mulai memukul kepala Alvin menggunakan vas bunga yang ada di sana, Alvin langsung tergeletak pingsan.
“HEH CEWE GILA!!!!” Dina berteriak kencang ke arahku dengan emosinya yang sudah meluap-luap
Lalu aku berlari ke arah jendela, lalu mulai memecahkan kacanya menggunakan gitar Dina yang ada di sana, ketika aku akan loncat untuk keluar Dina berhasil menangkapku dengan cara menjambak rambutku, setelah nya aku terjatuh dan Dina langsung memukuliku dengan sangat keras sehingga membuatku kehabisan tenaga, tetapi tiba-tiba pintu kamar terbuka dan ternyata itu adalah Kenny dengan wajahnya yang sudah babak belur. Tanpa pikir panjang ia segera menyingkirkan ia segera menyingkirkan Dina dariku, aku yang hampir hilang kesadaran tidak tahu apa yang Kenny lakukan sehingga Dina juga jatuh tergelatak pingsan.
“Lia ayo bangun li”
tapi aku sudah tidak kuat lagi untuk bangun, lalu Kenny langsung menggendong ku dan membawa ku ke bawah. Kami langsung masuk ke dalam mobil Kenny dan langsung pergi dari tempat itu. Sisanya aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku telah hilang kesadaran.
“Lia bangun, lii” ucap Kenny sambil menggoyang kan badan ku
aku mendengarnya, tapi aku masih setengah sadar, lalu aku mulai membuka mataku secara perlahan ternyata aku sudah berada di rumah sakit.
“oh my god, syukur lo ga apa-apa” ucap Kenny lalu memeluk ku “lo jangan khawatir lagi karena mereka udah gue laporin ke polisi” sambung Kenny sambil melepas pelukannya
“lo ga apa-apa?” tanyaku lirih
“lo ga usah khawatirin gue, gue ga apa-apa kok. yang harus lo khawatirin sekarang adalah kondisi lo sendiri” ucap Kenny
Aku kemudian mulai meneteskan air mata lagi, aku lega bisa selamat dari semua itu tapi aku merasa hampa, apa yang harus aku lakukan sekarang. Lalu Kenny memeluk ku kembali sambil menepuk-nepuk punggung ku dengan halus
“lo ga usah sedih karena sekarang lo punya gue. Gue janji ga akan ninggalin lo dan bakalan selalu ada buat lo” ucap Kenny lalu ia memegang tangan ku “gue juga udah ga punya siapa-siapa di dunia ini li, tapi seengganya ada lo, gue jadi punya alasan untuk tetep bertahan di sini” ucap Kenny
“lo… kenapa lo mau ngelakuin hal keji ini?” tanyaku pada Kenny
“gue juga sebenernya di jebak, mereka ngajak gue buat bisnis tapi ternyata bisnis yang mereka maksud adalah buat ngebunuh orang-orang yang ga bersalah. Gue udah mau berhenti dari hal keji ini, tapi mereka mengiming-imingi gue dengan bilang bahwa mereka bakal mempertemukan gue dengan orang tua gue” jawabnya lalu terdiam “meskipun gue benci mereka, tapi masih banyak hal yang mau gue tanyain ke mereka. kenapa mereka ninggalin gue tanpa pamit dan tanpa sebab? pertanyaan ini ga pernah bakal ilang dari pikiran gue” sambung nya
Setelah mendengar itu aku hanya bisa terdiam, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Kenny dengan keadaan ku yang seperti ini. Miris, satu kata yang keluar dari pikiran ku untuk menggambarkan keadaan kita saat ini. Kenny dan aku hanya terdiam, bergelut dengan pikiran masing-masing
-----
Aku bangun pagi-pagi sekali, melepas infus yang masih menempel di tanganku. Kulihat Kenny yang sedang tidur terlelap di sofa lalu aku menghampirinya. Aku mendekat lalu mulai memandangi nya,
“terimakasih Kenny” ucapku pelan sambil mengusap kepalanya lembut
Setelah itu aku memutuskan untuk pergi, saat ini aku sudah tidak percaya pada siapapun. Di dalam diriku telah membekas goresan luka yang sangat dalam sehingga membuatku takut untuk mempercayai orang lain. Di atas gedung ini aku berdiri, menatap ke sekeliling ku yang penuh dengan gedung-gedung dan bangunan yang membentang. Matahari terbit dengan indah pada saat itu yang membuatku tersenyum. Aku memejamkan mataku dan merasakan angin yang segar menyentuh kulitku.
“hari yang indah”
-tamat-
Komentar
Posting Komentar